Pergi Beli Rokok, Lalu Hilang, Ditemukan Tak Bernyawa

Misteri Kematian Frans Asten, Kepala BPBD Kab. Belu / Banyak Kejanggalan, Penyelidikan Polisi Buntu?

Olahgrafis: Vico Patty-BF

Apa yang sebenarnya terjadi pada Fransiskus Xaverius Asten? Dia Adalah Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Belu. Dari malam sederhana membeli rokok, kisahnya berubah menjadi teka-teki panjang yang hingga kini belum terjawab. Di balik jurang sunyi di Trans Timor, muncul jejak, kejanggalan, dan pertanyaan yang belum menemukan ujungnya.

 

Hilang Tanpa Jejak, Ditemukan Tak Bernyawa

BEBER FAKTA – November 2025, warga Kabupaten Belu diguncang kabar mengejutkan. Kepala Pelaksana BPBD Belu, Frans Asten, dilaporkan hilang setelah pamit keluar rumah.

Menurut keterangan keluarga, ia meninggalkan rumah di Kelurahan Tulamalae, Atambua Barat, pada Jumat malam (7/11/2025).

Baca Juga: Mucikari di Kupang Jual Pelajar SMP Kepada 7 Pria Hidung Belang

“Korban pergi meninggalkan rumahnya untuk membeli rokok. Namun, tidak kembali sampai ditemukan telah meninggal dunia,” ujar Kasat Reskrim saat itu.

Dua hari kemudian, Minggu pagi (9/11/2025), tubuhnya ditemukan di jurang Sabanese, Jalan Trans Timor Kilometer 6–8, Kecamatan Kakuluk Mesak—sekitar 17 kilometer dari rumahnya.

Penemuan itu mengakhiri pencarian, tetapi justru membuka misteri baru.

 

Jabatan Baru, Akhir yang Mendadak

Kematian Frans bukan hanya tragis, tapi juga janggal dalam konteks waktu.

Ia baru saja dilantik sebagai Kepala BPBD Belu pada 27 Oktober 2025. Bahkan, belum genap satu bulan ia menjabat.

Sebelumnya, Frans dikenal sebagai Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Belu—posisi strategis di lingkup pemerintahan daerah.

Baca Berita Beber Fakta di Tiktok @beber_fakta

Perubahan jabatan yang cepat, lalu kematian mendadak, membuat publik bertanya: apakah ini sekadar kebetulan?

 

Kejanggalan yang Tak Terjawab

Memasuki Maret 2026, keluarga mulai bersuara. Mereka menilai ada sejumlah kejanggalan yang belum terungkap.

Penasihat hukum keluarga, Silvester Nahak, mengungkapkan beberapa hal krusial:

  • Kunci kontak motor korban ditemukan dalam kondisi mati
  • Barang pribadi seperti ponsel, sweater, dan topi hilang
  • Jarak lokasi penemuan yang cukup jauh dari rumah
  • Dugaan benturan benda tumpul berdasarkan hasil autopsi

“Ada sejumlah kejanggalan yang perlu diusut lebih lanjut,” tegas Silvester.

Keluarga mengaku sudah menerima tiga kali SP2HP (Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan), namun belum puas.

 

Polisi: Belum Ditemukan Unsur Pidana

Di sisi lain, pihak kepolisian menyatakan penyelidikan masih berjalan sesuai prosedur.

Kapolres Belu, I Gede Eka Putra Astawa, menjelaskan bahwa sejak November 2025, polisi telah:

  • Melakukan olah TKP
  • Melaksanakan autopsi
  • Memeriksa 16 saksi dan ahli
  • Menganalisis CCTV dan Call Detail Record (CDR)
  • Menggelar perkara dua kali

Namun hingga kini, hasil sementara belum menemukan indikasi tindak pidana.

“Penyelidikan masih terus berlangsung,” kata Kapolres.

 

Antara Kecelakaan atau Sesuatu yang Lebih Besar?

Kasus ini kini berada di wilayah abu-abu: tidak cukup bukti untuk menyatakan kriminal, tetapi terlalu banyak kejanggalan untuk dianggap kecelakaan biasa.

Pertanyaannya sederhana, namun sulit dijawab:

  • Mengapa korban berada sejauh itu dari rumah hanya untuk membeli rokok?
  • Ke mana barang-barang pribadinya?
  • Apa penyebab benturan pada tubuhnya?

Di tengah minimnya kepastian, publik hanya bisa menunggu.

Namun bagi keluarga, waktu justru memperpanjang luka—dan mempertegas satu hal: misteri ini belum selesai. (Tim-BF/Vip)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *