Suasana Kota Kupang langsung pecah! Pawai ogoh-ogoh sambut Nyepi 1948 bukan sekadar tradisi, tetapi pesan kuat tentang toleransi, refleksi, dan perang melawan diri sendiri.

🎭 Pawai Meriah, Pesan Mendalam!
BEBERFAKTA – Rabu (18/3), pawai ogoh-ogoh di Kota Kupang berlangsung meriah.
Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, langsung melepas kegiatan ini.
Namun, bukan sekadar seremoni.
Ia mengajak warga memaknai Nyepi sebagai momen pengendalian diri.
Selain itu, ia menekankan pentingnya hidup harmonis dalam keberagaman.
Menurutnya, iman harus hadir dalam tindakan nyata, bukan hanya doa.
🤝 Dari Donor Darah sampai Takjil
Wali Kota mengapresiasi peran Parisada Hindu Dharma Indonesia Kota Kupang.
Sebab, rangkaian kegiatan Nyepi sangat menyentuh masyarakat.
Mulai dari donor darah, berbagi takjil, hingga pawai ogoh-ogoh.
âIni bukti iman yang hidup dalam aksi,â tegasnya.
🌍 Harmoni Bukan Harus Sama!
Mengusung tema Vasudhaiva Kutumbakam, ia menegaskan satu hal penting.
Menurutnya, harmoni bukan berarti semua harus sama.
Sebaliknya, perbedaan justru menciptakan keindahan.
Ia bahkan menggambarkan Kota Kupang seperti lukisan penuh warna.
Setiap warga menjadi bagian dari harmoni itu.
Tak heran, Kupang masuk 10 besar kota toleran di Indonesia.
😈 Ogoh-Ogoh = Simbol Lawan Diri Sendiri
Lebih lanjut, dr. Christian Widodo mengingatkan makna ogoh-ogoh.
Menurutnya, ogoh-ogoh melambangkan sifat buruk manusia.
Seperti amarah, ego, hingga keserakahan.
Karena itu, pawai ini bukan sekadar tontonan.
Melainkan simbol keberanian melawan diri sendiri.
âKemenangan sejati itu saat kita mau berubah,â tegasnya.
🤫 Nyepi: Saatnya âRestartâ Hidup
Menariknya, ia juga menyinggung makna keheningan saat Nyepi.
Ia mengibaratkan hidup seperti handphone.
Jika tidak pernah berhenti, hidup bisa âhangâ.
Karena itu, Nyepi jadi momen penting untuk reset diri.
Agar hidup kembali bermakna dan seimbang.
🔥 Rangkaian Nyepi Penuh Makna
Sementara itu, I Gusti Ngurah Suarnawa menjelaskan proses Nyepi.
Dimulai dari Tawur Kesanga untuk penyucian diri dan alam.
Lalu, umat Hindu menjalani Catur Brata Penyepian selama 24 jam.
Di sisi lain, Ketua Panitia I Wayan Gede Astawa memaparkan kegiatan.
Mulai dari donor darah, Melasti, hingga pawai ogoh-ogoh.
Semua berjalan berkat dukungan lintas agama dan pemerintah. (Sumber: Bag. Prokopim Setda Kota Kupang-Ansel Ladjar/Vip-BF)











