Prof. Paul G. Tamelan memimpin langkah berani Undana menyatukan 75 tim dosen ke 42 desa Kupang demi memutus pemborosan anggaran riset. Ratusan akademisi kini turun langsung menjawab penderitaan warga desa secara riil.
BEBER FAKTA—Selama bertahun-tahun, laporan ilmiah tebal kerap kali berakhir sebagai tumpukan kertas tak bernyawa di rak perpustakaan kampus. Di saat bersamaan, warga di pelosok desa harus terus berjuang sendirian menghadapi keringnya lahan pertanian dan ketertinggalan ekonomi.
🌿 Mimpi Baru dari Ruang Sidang Bupati
Arah angin perubahan itu akhirnya berembus dari Kantor Bupati Kupang pada Selasa, 14 Juli 2026. Universitas Nusa Cendana resmi meluncurkan Program Pengabdian kepada Masyarakat Berdampak yang menyasar 42 desa di sembilan kecamatan.
Langkah strategis ini menandai babak baru kepemimpinan kampus sejak Rektor Undana dilantik pada 8 Desember 2025. Kampus negeri terbesar di NTT tersebut mengonsolidasikan seluruh aktivitas penelitian, KKN, dan pengabdian dosen yang semula berjalan sendiri-sendiri.
💡 Memasang Telinga Sebelum Mengulurkan Tangan
Universitas Nusa Cendana menyadari betul bahwa pertolongan sejati tidak boleh lahir dari asumsi sepihak akademisi. Kepala LPPM Undana, Prof. Ir. Yosep Seran Mau, M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa perumusan program berpedoman pada mekanisme Belanja Masalah.
LPPM berkoordinasi secara terstruktur dengan Bapperida Kabupaten Kupang demi menangkap jeritan dan kebutuhan riil masyarakat. Melalui seleksi ketat, sebanyak 75 kelompok PKM Dosen Berdampak akhirnya ditetapkan untuk beroperasi di lapangan sejak 14 Juli hingga 31 Agustus 2026.
🤝 Menyatukan Kekuatan Pakar dan Mahasiswa
Pergerakan besar ini didukung dana operasional khusus sebesar Rp1,1 miliar untuk Kabupaten Kupang. Anggaran tersebut merupakan bagian dari komitmen besar Undana tahun 2026 yang mengucurkan Rp8 miliar untuk PKM dan Rp17 miliar untuk riset dosen di delapan kabupaten/kota.
Pasukan akademisi ini dipimpin langsung satu Tim Guru Besar Berdampak di bawah arahan Prof. Fred Benu, Ph.D. Sebanyak 74 kelompok dosen multidisiplin yang melibatkan sekitar 200 pakar turun langsung bersama 290 mahasiswa KKN Undana, terdiri dari 150 personel KKN Tematik Gentaskin dan 140 personel KKN Reguler.
🎙️ Suara Ketegasan dari Senat Akademik
“Seluruh potensi dosen dan mahasiswa kami satukan dalam satu wilayah agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat. Keunggulan internasional sebagai World Class University tidak mungkin dicapai apabila kita belum mampu menyelesaikan persoalan di daerah kita sendiri,” tegas Wakil Rektor II Undana, Prof. Dr. Paul G. Tamelan, M.Si., pada Selasa (14/7/2026).
🏛️ Sambutan Hangat dan Harapan Daerah
Pemerintah Kabupaten Kupang menyambut aksi nyata para akademisi ini dengan tangan terbuka. Mewakili Bupati Kupang Yosef Lede, S.H., Asisten I Sekretariat Daerah Drs. Guntur Subu Taopan menginstruksikan seluruh jajaran perangkat daerah, camat, hingga kepala desa untuk memberikan dukungan penuh.
Pemerintah daerah mengisyaratkan bahwa sektor pertanian, peternakan, perikanan, pariwisata, UMKM, dan kualitas SDM sangat membutuhkan sentuhan inovasi ilmiah. Kemitraan ini menjadi pilar utama dalam mewujudkan cita-cita besar daerah bertajuk Kabupaten Kupang Emas.
🔥 Mengakhiri Era Tumpukan Kertas Nir-Manfaat
Momen ini menjadi titik balik penting untuk memutus tradisi pemborosan anggaran riset yang selama ini terbuang sia-sia di atas kertas. Penelitian kampus tidak lagi menjadi sekadar formalitas administratif demi kelulusan atau hiasan di perpustakaan.
Kini, setiap rupiah dari total anggaran Rp25 miliar milik Undana pada 2026 bertransformasi menjadi solusi terukur bagi warga. Undana membuktikan janji hidupnya sebagai Locally Relevant University—hadir nyata membawa terang di tengah kegelapan persoalan masyarakat NTT.(*Sumber: Humas Undana-Alk/Red.01-BF)











