Smart City Kupang: Pemerintah Hadir Dalam Genggaman Warga

SMART CITY & LAYANAN PUBLIK DIGITAL (4)

Olah grafis/Ilustrasi Digital (AI): Vico Patty

PAGI itu matahari belum tinggi ketika Antoneta, warga Kelurahan Oepura, berdiri di depan loket Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Kupang. Di tangan kirinya, ponsel terbuka menampilkan layar antrean digital. Nomornya sudah mendekat, dan tak lama kemudian seorang petugas memanggil namanya dengan ramah. “Saya dilayani dengan cepat dan jelas, semua lewat ponsel saja. Dulu bisa habis setengah hari, sekarang paling lima belas menit,” katanya tersenyum lega sambil menggenggam kartu yang baru dicetak.

Di Kota Kupang, kisah Antoneta kian sering terdengar. Warga mulai terbiasa dengan layanan publik yang bisa diakses dari genggaman: dari antrean puskesmas, pengurusan izin, hingga pembayaran pajak dan retribusi daerah. Transformasi itu menjadi bagian dari langkah besar Pemerintah Kota Kupang untuk menuju Smart City—sebuah konsep kota cerdas yang mengutamakan kemudahan, efisiensi, dan keterbukaan layanan.

Teknologi yang Menyentuh Kehidupan Warga

Bagi Walikota Kupang, dr. Christian Widodo, konsep Smart City bukan sekadar penggunaan aplikasi atau teknologi mutakhir. Lebih dari itu, ini tentang bagaimana teknologi menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam memberikan rasa hadir kepada warga. Dalam wawancara bersama beberfakta.web.id, ia menuturkan panjang lebar:

Olah Grafis: Vico

“Smart City bukan soal gadget atau jaringan internet saja. Intinya adalah bagaimana teknologi bisa membuat warga merasakan kehadiran pemerintah dalam keseharian mereka. Saat mereka mengurus administrasi tanpa antre lama, saat pajak bisa dibayar lewat ponsel, atau ketika laporan jalan rusak bisa langsung diterima dan ditindaklanjuti, di situlah pemerintah benar-benar hadir lewat genggaman,” ujar dr. Christian di ruang kerjanya di Balai Kota Kupang.

“Saya selalu katakan kepada seluruh ASN: jangan biarkan digitalisasi hanya jadi formalitas. Harus ada sentuhan kemanusiaan di dalamnya. Layanan digital itu seharusnya membuat warga merasa lebih dekat, bukan makin jauh. Ini bukan tentang mengganti interaksi manusia, tetapi mengefisienkan waktu agar energi bisa kita gunakan untuk hal yang lebih produktif—seperti membangun dan mendengar warga.”

Di bawah kepemimpinan Walikota, dr. Christian Widodo dan Wakil Walikota Serena Cosgrova Francis, Pemerintah Kota Kupang membentuk Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) yang kini menjadi tulang punggung implementasi Smart City.

Program ini mengintegrasikan sistem layanan mulai dari perizinan usaha, data kependudukan, pembayaran pajak, hingga sistem keuangan daerah.

Info grafis: Vico

Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Kupang mencatat peningkatan signifikan pada efektivitas pelayanan publik serta meningkatnya kepercayaan warga terhadap pemerintah kota. Aplikasi dan platform layanan online kini telah digunakan oleh ribuan pengguna aktif setiap bulannya.

“Dulu, banyak keluhan soal antrean dan birokrasi. Sekarang keluhan itu jauh berkurang,” tambah dr. Christian.

“Perubahan ini tidak datang tiba-tiba. Kami memulainya dengan pelatihan untuk ASN, uji coba sistem, dan sosialisasi ke masyarakat. Kupang tidak ingin jadi kota digital yang eksklusif, tetapi kota digital yang manusiawi dan terbuka untuk semua.”

Transparansi dan Partisipasi Jadi Ruh Transformasi

Sementara itu, Wakil Walikota Kupang, Serena Cosgrova Francis, menekankan bahwa keberhasilan digitalisasi tidak akan berarti tanpa kejujuran, transparansi, dan partisipasi publik. Dalam perbincangan dengan tim redaksi, Serena berbicara dengan nada tegas namun penuh semangat.

“Transparansi adalah jantung dari semua proses ini. Layanan publik berbasis digital memungkinkan warga untuk mengawasi jalannya pemerintahan. Mereka bisa tahu sejauh mana berkasnya diproses, siapa yang menangani, bahkan kapan target selesai. Itu artinya tidak ada ruang untuk manipulasi atau permainan waktu”

Serena Cosgrova FrancisWakil Walikota Kupang

“Selain itu, kami ingin warga menjadi bagian dari proses pembangunan digital. Kami melibatkan mahasiswa, komunitas IT lokal, dan pelajar SMA untuk ikut mengembangkan ide-ide aplikasi sederhana yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Jadi, Smart City Kupang bukan proyek pemerintah saja—ini gerakan sosial untuk membangun masa depan kota yang lebih transparan, efisien, dan partisipatif.

Serena juga menambahkan bahwa digitalisasi memberi peluang bagi perempuan dan generasi muda untuk berperan lebih besar.

Olah grafis: Vico

“Dengan platform digital, perempuan bisa mengelola usaha dari rumah, anak muda bisa berinovasi tanpa harus menunggu proyek besar. Pemerintah hadir sebagai fasilitator, bukan penghambat. Itu filosofi yang kami pegang.”

Perubahan yang Dirasakan Langsung

Di lapangan, manfaat digitalisasi terasa nyata. Seorang ASN di Dinas Perhubungan yang enggan namanya disebutkan, bercerita bahwa sistem kerja kini lebih efisien dan terukur.

“Dulu kalau mau kirim laporan harus bawa map tebal, sekarang tinggal unggah lewat sistem. Kami jadi bisa fokus di lapangan, bukan sibuk bolak-balik urus dokumen,” katanya sambil tertawa kecil.

Sementara itu, di Kelurahan Oesapa, Rita K. (40), ibu rumah tangga yang juga pedagang kue, mengaku sangat terbantu dengan aplikasi pembayaran pajak dan retribusi online.

“Dulu saya harus ke kantor kelurahan, antre, dan kadang ditunda karena petugas belum siap. Sekarang semua lewat HP. Saya bisa bayar sambil menunggu pelanggan di warung,” ungkapnya.

“Saya merasa pemerintah sekarang benar-benar dekat. Tidak perlu datang ke kantor, tapi urusan tetap selesai.”

Kupang Bergerak Menuju Kota Digital yang Inklusif

Perubahan menuju Smart City tentu tidak tanpa tantangan. Masih ada wilayah dengan koneksi internet terbatas dan warga yang belum terbiasa menggunakan aplikasi digital. Namun pemerintah tidak tinggal diam. Melalui kerja sama dengan TP2DD, Kominfo, dan dinas teknis lain, Pemkot Kupang secara bertahap membangun jaringan internet publik, pusat pelatihan digital di kelurahan, dan ruang layanan bantuan daring.

“Smart City bukan tujuan akhir,” tutur dr. Christian menutup sesi wawancara.

“Ini perjalanan panjang. Kami ingin setiap langkah digitalisasi benar-benar memudahkan warga, bukan membingungkan mereka. Smart City Kupang adalah tentang membangun kepercayaan—bahwa pemerintah bisa hadir bahkan lewat layar kecil di tangan masyarakat.”

Kini, di jalan-jalan yang kian terang oleh lampu kota dan di ruang-ruang publik yang mulai dilengkapi akses internet gratis, perubahan itu terasa. Kupang sedang bergerak pelan tapi pasti menuju wajah baru: sebuah kota cerdas yang tumbuh dari semangat warganya, dari kesederhanaan teknologi yang digunakan dengan hati. (Tim-BF/Vip/*dari berbagai sumber/ADV)

Respon (1)

  1. Era digitalisasi membuat semua di dalam genggaman. Semakin mudah dalam pengurusan administrasi yang selama ini di lakukan secara manual .masyarkat jadi tidak lagi membuang waktu yg lama hanya untuk antrian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *