Pemerintah mempercepat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di daerah dengan angka stunting tinggi. Nusa Tenggara Timur (NTT), Papua, dan sejumlah wilayah lain menjadi prioritas pengoperasian dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
BEBER FAKTA — Pemerintah memfokuskan percepatan operasional dapur SPPG di wilayah yang membutuhkan intervensi gizi segera. Langkah ini dilakukan berdasarkan data Kementerian Kesehatan mengenai daerah dengan prevalensi stunting tinggi.
🥣 Daerah Stunting Jadi Prioritas MBG
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengatakan pemerintah akan mengoperasikan dapur SPPG yang telah dibangun agar manfaat Program MBG segera dirasakan masyarakat.
Pernyataan itu disampaikan dalam Rapat Perbaikan Tata Kelola MBG di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Rabu (29/7/2026).
“Kami, di rapat ini sudah dipaparkan Kemenkes, daerah-daerah mana yang memang memerlukan sentuhan butuh gizi segera, dimana angka stunting-nya tinggi. Maka kami akan memprioritaskan. Berdasarkan data ini, kita cek, dapur yang sudah dibangun, segera kami bisa dioperasionalkan,” kata Sudaryono.
📍 NTT dan Papua Masuk Wilayah Prioritas
Sudaryono menjelaskan BGN akan mengutamakan pengoperasian dapur SPPG di wilayah dengan angka stunting tinggi.
Ia menyebut Papua, NTT, serta beberapa daerah di Sumatera menjadi kawasan yang membutuhkan intervensi gizi lebih cepat.
“Jadi sudah ada merah-merah, ada Papua, NTT, termasuk daerah di pulau-pulau lain, Sumatera. Itu daerah-daerah yang sangat butuh sentuhan gizi langsung kepada masyarakat, kepada anak-anak kita,” ujarnya.
Menurut Sudaryono, jika dapur SPPG telah beroperasi dengan sistem yang baik, menu yang layak, dan standar kebersihan yang terpenuhi, maka pelaksanaan MBG akan dimaksimalkan.
🤝 BGN Perkuat Kolaborasi Antarinstansi
Selain mempercepat operasional dapur, BGN juga akan memperkuat koordinasi dengan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, serta dinas terkait.
Langkah tersebut dilakukan untuk memperbaiki tata kelola Program MBG sekaligus mempercepat penyaluran manfaat kepada masyarakat.
“Untuk kita sama-sama bereskan ini semua. Saya paham rakyat sangat menginginkan ini segera. Nah, kita kasih waktu sedikit ya. Kita akan bekerja keras dan kita akan bereskan,” kata Sudaryono.
👶 Data Penerima MBG Ditargetkan Rampung 5 Agustus
Dalam rapat yang sama, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, menegaskan bahwa anak penderita stunting menjadi prioritas penerima manfaat Program MBG.
“Tentu kesimpulan tadi adalah satu prioritas stunting karena ini menjadi kewenangan kita bersama,” ujar Wihaji.
Ia menambahkan, pemerintah sedang menyinkronkan data penerima manfaat yang mencakup siswa sekolah, santri pesantren, ibu hamil, dan balita.
Target sinkronisasi data tersebut selesai sebelum 5 Agustus 2026.
“Yang kedua sebelum tanggal 5 nanti pendataannya kita sinkron dari anak-anak sekolah dari data Kemendikdasmen, siswa pesantren dari data Kemenag, dan ibu hamil serta balita dari kementerian kita. Sebelum tanggal 5 pendataannya nanti bisa real,” ujar Wihaji.(*/Red.01-BF)











