KOTA KUPANG, beberfakta.web.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam tiga hari ke depan. Peringatan ini menyusul terpantau adanya sirkulasi siklonik di wilayah selatan NTT atau utara Australia yang berpotensi berkembang menjadi bibit siklon tropis.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi El Tari Kupang, Sti Nenotek, mengatakan kondisi tersebut menjadi pemicu utama terjadinya cuaca ekstrem di wilayah NTT. Selain sirkulasi siklonik, dinamika atmosfer juga dipengaruhi oleh aktifnya gelombang Low Frequency, Gelombang Equatorial Rossby, dan Gelombang Kelvin.
“Fenomena ini menyebabkan terbentuknya daerah belokan angin, pertemuan angin, serta perlambatan kecepatan angin yang mendukung terjadinya hujan lebat disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat,” ujar Sti Nenotek, Selasa (23/12/2025).
BMKG memprakirakan potensi cuaca ekstrem akan melanda seluruh wilayah NTT hingga 28 Desember 2025. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang berpotensi terjadi secara merata di 21 kabupaten dan satu kota di provinsi tersebut.
Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan banjir bandang, terutama di wilayah dengan topografi curam, tebing, dan daerah bergunung.
BMKG juga mengingatkan warga yang bermukim di sekitar Gunung Api Lewotobi Laki-Laki, Kabupaten Flores Timur, agar mewaspadai potensi banjir lahar dingin akibat tingginya intensitas curah hujan.
“Masyarakat diminta waspada terhadap potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang berdurasi singkat hingga 28 Desember 2025,” kata Sti Nenotek.
Meski demikian, BMKG menegaskan masyarakat tidak perlu panik dan diminta untuk terus memantau informasi cuaca terkini karena kondisi atmosfer yang bersifat dinamis. Kepala daerah juga diimbau untuk berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta TNI-Polri guna meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. (*)











