Di tengah derasnya arus Artificial Intelligence (AI), influencer, dan buzzer yang menguasai ruang digital, puluhan wartawan di Nusa Tenggara Timur memilih duduk bersama untuk belajar. Mereka percaya, kepercayaan publik tetap lahir dari jurnalisme yang berkualitas.
BEBER FAKTA—Di sebuah ruangan sederhana di Sekretariat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) NTT, Jalan Artha Graha 1, Kelurahan Tuak Daun Merah (TDM), Kota Kupang, puluhan wartawan tampak serius menyimak setiap materi yang disampaikan para narasumber. Selama dua hari, 5–6 Agustus 2026, mereka tidak hanya memperdalam teknik menulis berita, tetapi juga mencari jawaban atas satu pertanyaan besar: Masihkah wartawan dibutuhkan di era AI, influencer, dan buzzer?
Pelatihan jurnalistik bertajuk “Kekuatan Influencer, Buzzer & AI, Masih Butuhkan Wartawan?” menjadi ruang belajar sekaligus refleksi bagi insan pers di Nusa Tenggara Timur untuk memperkuat kualitas profesi mereka di tengah perubahan teknologi yang begitu cepat.
📚 Belajar Menjaga Nilai Jurnalisme
Sebanyak 40 wartawan dari berbagai media siber dan media cetak di NTT mengikuti kegiatan tersebut. Sejumlah peserta dari Humas PDAM Kabupaten Kupang juga ikut ambil bagian.
Hari pertama dimulai pada Rabu, 5 Agustus 2026, pukul 09.00 Wita. Setelah laporan Ketua Panitia Kosmas Olla, Ketua SMSI NTT Benny Djahang memberikan sambutan sebelum pelatihan resmi dibuka oleh Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo.
SMSI NTT menghadirkan tiga narasumber dengan pengalaman berbeda di dunia pers.
Frans Patty Herin, jurnalis Harian Kompas, membimbing peserta memahami prinsip dasar jurnalistik, nilai berita, teknik penulisan *straight news*, rumus 5W+1H, piramida terbalik, hingga pentingnya akurasi, verifikasi, dan konfirmasi.
Materi berikutnya disampaikan Pius Rengka, Penasihat SMSI NTT sekaligus praktisi pers, akademisi, dan wartawan senior. Ia mengajak peserta memahami perbedaan mendasar antara wartawan dan influencer, pentingnya independensi, tantangan AI, serta peran pers dalam menjaga demokrasi dan kepentingan publik.
Pada hari kedua, Kamis, 6 Agustus 2026, giliran Dion D. B. Putra, Pemimpin Redaksi Pos Kupang sekaligus Ahli Dewan Pers, membahas Kode Etik Jurnalistik, hak jawab, hak koreksi, perlindungan hukum wartawan, hingga mekanisme penyelesaian sengketa pers melalui Dewan Pers.
🎯 Saat Kepercayaan Lebih Penting dari Viewer
Di tengah pembukaan pelatihan, Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo, yang didampingi Kadis Kominfo Kota Kupang, Mariantje Baun dan Camat Oebobo Zet Batmalo menyampaikan apresiasi kepada SMSI NTT karena terus meningkatkan kapasitas wartawan melalui pelatihan dan sertifikasi.
Ia mengaku sengaja menggeser agenda peresmian lain agar dapat hadir langsung dalam kegiatan tersebut.
“Bagi Pemerintah Kota Kupang, peran media sangat penting. Bahkan jika pesertanya hanya satu atau dua orang pun, saya akan tetap datang.”
Menurut dr. Christian, media memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara pemerintah dan masyarakat. Program pembangunan, katanya, tidak cukup hanya baik, tetapi juga harus dikomunikasikan dengan benar.
“Program pemerintah bisa saja bagus, tetapi kalau cara menyampaikannya tidak tepat, masyarakat bisa salah paham. Sebaliknya, program biasa pun bisa diterima baik jika dikemas cerdas. Di sinilah peran krusial pers.”
Di era media sosial yang serba cepat, dr. Christian mengingatkan bahwa wartawan tidak boleh terjebak mengejar angka pembaca atau interaksi semata.
“Tantangan terbesar pers yang tidak akan lekang oleh waktu adalah kepercayaan publik. Bukan tentang seberapa banyak orang membaca tulisan kita, tetapi seberapa banyak yang percaya. Quality over quantity.”
🤝 Dukungan yang Datang dalam Bentuk Nyata
Dukungan Pemerintah Kota Kupang tidak berhenti pada sambutan.
Sebagai bentuk kolaborasi, dr. Christian menginstruksikan Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Kupang untuk memperluas kerja sama dengan SMSI NTT. Ia juga meminta organisasi tersebut mengusulkan lima wartawan yang kompeten dan telah bersertifikasi untuk mendukung publikasi program pemerintah sesuai ketentuan anggaran.
Selain itu, Pemerintah Kota Kupang membantu pelaksanaan pelatihan dengan memasang wifi di Sekretariat SMSI, serta menyediakan 200 porsi makan siang dan makanan ringan selama dua hari kegiatan.
Secara pribadi, dr. Christian juga menyerahkan satu unit laptop untuk mendukung operasional Sekretariat SMSI NTT.
Menutup sambutannya, ia mengajak seluruh elemen masyarakat membangun Kota Kupang secara bersama.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Datang bersama adalah sebuah permulaan, tetap bersama adalah sebuah kemajuan, dan bekerja bersama adalah sebuah kesuksesan.”
💡 Berbagi Ilmu di Tengah Perubahan Teknologi
Bagi para narasumber, pelatihan ini bukan sekadar forum penyampaian materi. Mereka melihatnya sebagai ruang belajar bersama di tengah perubahan dunia jurnalistik.
Frans Patty Herin menilai kegiatan seperti ini penting karena perkembangan jurnalistik berlangsung sangat cepat.
“Ini kegiatan yang sangat baik. Bukan hanya sekadar memberikan pengetahuan kepada peserta, kita juga bisa saling berbagi ilmu tentang jurnalistik, karena perkembangan yang pesat, teknik-teknik penulisan semakin berkembang. Kegiatan seperti ini harus lebih sering dibuat oleh organisasi-organisasi profesi kewartawanan, jurnalistik dan media.”
Pius Rengka menilai perkembangan teknologi justru menuntut wartawan terus memperbarui kemampuan.
“Dengan kegiatan pelatihan yang sifatnya sharing seperti ini, membuka cakrawala berpikir bagi jurnalis. Karena perkembangan teknologi membuat jurnalis harus selalu belajar. Saya kira dengan kegiatan pelatihan seperti ini, SMSI NTT membantu kita semua insan pers di NTT untuk selalu mengasah kemampuan kita baik dalam menulis artikel maupun cara pandang terhadap teknologi, khususnya teknologi Artificial Intelligence (AI).”
Sementara itu, Dion D. B. Putra menegaskan bahwa pemahaman terhadap etika menjadi fondasi utama profesi wartawan.
“Dengan pelatihan ini, membuat jurnalis tahu batasan-batasan dalam karya jurnalistik. Ini penting, sehingga wartawan tidak keluar dari pakemnya, karena paham rambu-rambu yang ada di dalam Undang-Undang dan etika jurnalistik.”
🚀 Menyiapkan Wartawan Menghadapi Masa Depan
Ketua SMSI NTT Benny Djahang menjelaskan bahwa pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi wartawan, memperkuat pemahaman terhadap Kode Etik Jurnalistik, menjaga independensi pers, serta membekali peserta menghadapi perkembangan Artificial Intelligence secara profesional dan bertanggung jawab.
Pelatihan juga bertujuan meningkatkan kualitas pemberitaan media siber agar tetap faktual, akurat, berimbang, dan terpercaya. Selain itu, peserta memperoleh pemahaman mengenai hak jawab, hak koreksi, perlindungan hukum profesi wartawan, serta mekanisme penyelesaian sengketa pers melalui Dewan Pers.
🌟 Dua Hari Belajar, Satu Tujuan Menjaga Kepercayaan Publik
Pelatihan hari pertama berakhir pukul 15.00 Wita, sedangkan hari kedua ditutup pukul 13.00 Wita. Kedua sesi diakhiri dengan foto bersama sebagai penanda berakhirnya kegiatan.
Di tengah kemajuan AI, influencer, dan algoritma media sosial, para peserta pulang dengan bekal yang lebih dari sekadar teknik menulis. Mereka membawa kembali pengingat bahwa kekuatan utama seorang wartawan bukan hanya kecepatan menyampaikan informasi, melainkan kemampuan menjaga akurasi, etika, independensi, dan kepercayaan publik. Nilai-nilai itulah yang menjadi fondasi jurnalisme, apa pun perkembangan teknologinya. (Vic-BF)











