Micin Bikin Bodoh? Fakta Ilmiah Ini Bisa Mengubah Cara Pandangmu

Foto: Ilustrasi
Micin bikin bodoh, masih menjadi anggapan yang dipercaya banyak orang. Padahal, berbagai penelitian dan pendapat ahli menunjukkan bahwa mitos tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat.

BEBER FAKTA — Hampir setiap orang pernah mendengar peringatan agar tidak terlalu banyak mengonsumsi micin. Bahkan, tak sedikit anak tumbuh dengan keyakinan bahwa MSG dapat menurunkan kecerdasan. Namun, ketika ilmu pengetahuan menelusuri anggapan itu, hasilnya justru mengarah pada kesimpulan yang berbeda.

🧂 Mitos yang Bertahan Puluhan Tahun

Cerita tentang micin bermula dari popularitas Monosodium Glutamat (MSG) sebagai penyedap rasa gurih. Di balik penggunaannya yang luas, muncul kekhawatiran bahwa bahan ini dapat memengaruhi kesehatan otak.

Dilansir dari Health Expert, anggapan tersebut berawal dari laporan kasus pada era 1960-an yang dikenal sebagai Chinese Restaurant Syndrome (CRS). Saat itu, beberapa orang mengeluhkan sakit kepala hingga mual setelah menyantap makanan di restoran China yang menggunakan MSG.

Namun, media pada masa itu langsung mengaitkan keluhan tersebut dengan MSG tanpa penyelidikan menyeluruh terhadap bahan makanan lain. Sejak itulah, narasi tentang bahaya micin berkembang hingga muncul anggapan bahwa MSG bisa membuat seseorang menjadi bodoh.

🌱 Dari Tebu Hingga Menjadi Penyedap Rasa

Di balik stigma itu, masih banyak orang yang penasaran mengenai asal-usul micin.

Mengutip Kementerian Kesehatan, MSG merupakan penambah rasa berbentuk kristal putih yang dibuat melalui proses fermentasi bahan alami. Bakteri diberi sumber karbohidrat, seperti tebu, kentang, ampas sayuran, atau bahan lain, kemudian menghasilkan glutamat yang diproses menjadi monosodium glutamat.

Proses tersebut berlangsung secara higienis dan menghasilkan glutamat yang secara alami juga ditemukan dalam berbagai bahan makanan.

🧠 Negara Konsumen Micin Justru Punya IQ Tinggi

Jika benar micin membuat bodoh, seharusnya negara dengan konsumsi MSG tinggi memiliki tingkat kecerdasan rendah. Namun, fakta menunjukkan kondisi sebaliknya.

Data yang dikutip SASA menyebut Jepang, Korea Selatan, dan China menjadi negara dengan konsumsi MSG tertinggi di dunia. Penduduk Jepang dan Korea Selatan mengonsumsi sekitar 1,2 hingga 1,7 gram MSG per hari. Di beberapa wilayah China, angkanya bahkan lebih tinggi dibandingkan negara-negara di Amerika maupun Eropa.

Menariknya, Jepang memiliki rata-rata IQ sekitar 106,48. China berada pada kisaran 104,1 hingga 107,19, sedangkan Korea Selatan mencapai 102,35 hingga 106,43.

👨‍⚕️ Para Ahli Meluruskan Kesalahpahaman

Dokter spesialis gizi, dr. Johanes Chandrawinata, SpGK, menegaskan tidak ada hubungan antara konsumsi MSG dan tingkat kecerdasan seseorang.

“Anak jadi bodoh apa karena makan micin, itu tidak ada hubungan, itu mitos mungkin ya berbagai faktor anak jadi bodoh. Karena mungkin terlalu banyak main game atau lihat tv, nonton tv, terus nggak pernah belajar,” ujar dr. Johanes.

Temuan serupa juga muncul dalam jurnal Effect of monosodium L-glutamate (umami substance) on cognitive function in people with dementia. Penelitian terhadap 159 pasien demensia menunjukkan konsumsi MSG secara rutin dalam jumlah wajar tidak menyebabkan penurunan fungsi kognitif. Bahkan, terdapat indikasi MSG dapat membantu mempertahankan atau sedikit meningkatkan fungsi kognitif tertentu.

Ahli gizi dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes juga menegaskan bahwa MSG bukan zat berbahaya jika dikonsumsi sesuai takaran.

“Glutamat itu adalah zat gizi ya. Apakah glutamat itu racun atau berbahaya? Kita sepakat tidak beracun. Itu zat gizi yang merupakan amino esensial,” katanya.

⚖️ Kuncinya Tetap Konsumsi Secara Wajar

Meski mitos tentang micin bikin bodoh tidak terbukti, bukan berarti MSG boleh dikonsumsi tanpa batas.

World Health Organization (WHO) menetapkan asupan MSG yang dapat diterima tubuh berada pada kisaran 0–120 mg per kilogram berat badan. Sementara itu, penelitian Konsensus Monosodium Glutamate mencatat total asupan glutamat dari makanan di negara-negara Eropa umumnya berkisar antara 5–12 gram per hari.

Pada akhirnya, bukan micin yang menentukan kecerdasan seseorang. Pola hidup sehat, asupan gizi seimbang, serta kebiasaan belajar tetap menjadi faktor yang jauh lebih berpengaruh terhadap fungsi otak dibandingkan mitos yang telah beredar selama puluhan tahun.(*/Red.01-BF)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *