🔥Undana Gaspol Lawan Rabies! Pakar Jepang Turun Tangan

Teknologi Canggih Dibongkar

Foto: Undana.ac.id

Undana tancap gas! Kampus ini gandeng pakar Jepang untuk bongkar teknik deteksi rabies super cepat demi selamatkan NTT dari ancaman zoonosis.

 

Undana Bergerak, Rabies Jadi Target Utama

BEBER FAKTA – Universitas Nusa Cendana (Undana) langsung bergerak cepat menghadapi ancaman rabies di Nusa Tenggara Timur. Kampus ini menggandeng Center for Animal Disease Control (CADIC) Universitas Miyazaki, Jepang, untuk menghadirkan pelatihan diagnostik rabies berteknologi mutakhir.

Program ini resmi dibuka pada 9 Maret 2026 di Gedung Dekanat Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan (FKKH). Langkah ini sekaligus menunjukkan keseriusan Undana dalam menangani penyakit zoonosis yang mengancam manusia.

Selain itu, kolaborasi ini menjadi bukti nyata bahwa dunia akademik tidak tinggal diam. Undana justru tampil di garis depan melindungi masyarakat.

 

Lanjutan Kerja Sama Global, Bukan Sekadar Seremonial

Pelatihan ini bukan program dadakan. Sebaliknya, kegiatan ini merupakan kelanjutan kerja sama strategis sejak 2022 antara FKKH Undana dan CADIC Jepang.

Dekan FKKH Undana, Dr. dr. Christina Olly Lada, menegaskan pentingnya penguatan kemampuan diagnostik. Menurutnya, semakin cepat virus terdeteksi, semakin cepat pula penanganan dilakukan di lapangan.

Karena itu, peningkatan kapasitas peneliti menjadi kunci utama. Tidak hanya teori, peserta juga langsung praktik agar hasilnya lebih maksimal.

 

Teknologi Jepang Dibongkar, Peneliti Undana Naik Level

Dalam pelatihan ini, para pakar Jepang membagikan teknik diagnostik rabies yang selama ini digunakan di negaranya. Fokus utama terletak pada kecepatan dan ketepatan deteksi virus.

Prof. Ayako Yoshida memimpin langsung pelatihan tersebut. Selain itu, Prof. Kentaro Yamada dan Dr. Akitoyo Hotta ikut memberikan materi spesialis di bidang kesehatan hewan.

Menariknya, para peserta tidak hanya duduk mendengar. Mereka langsung praktik di Laboratorium Veteriner Dinas Peternakan NTT. Dengan demikian, kemampuan teknis mereka meningkat secara signifikan.

 

Target Besar: NTT Bebas Rabies

Rektor Undana, Prof. Jefri S. Bale, menegaskan bahwa kerja sama ini harus berdampak nyata. Ia ingin hasil pelatihan ini langsung dirasakan masyarakat.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa program ini bukan sekadar transfer ilmu. Namun, ini adalah langkah konkret menjawab masalah rabies yang masih tinggi di NTT.

Program yang berlangsung hingga 13 Maret 2026 ini melibatkan akademisi, praktisi internasional, dan UPTD Laboratorium Veteriner. Sinergi ini diharapkan mampu menjadikan Undana sebagai pusat rujukan diagnostik rabies di wilayah timur Indonesia. (Sumber: undana.ac.id/IyL/Vip-BF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *