Universitas Nusa Cendana (Undana) kembali mencetak sejarah. Tiga guru besar resmi dikukuhkan, di balik momen sakral itu, Rektor melontarkan peringatan keras soal bahaya ketergantungan pada AI.
🎓 Undana Tembus 79 Guru Besar, Tapi Ada “Alarm” dari Rektor
BEBER FAKTA – Pengukuhan tiga guru besar terbaru, membuat Undana kini memiliki total 79 guru besar. Rinciannya, 55 masih aktif, 14 emeritus, satu pindah home base, dan sembilan telah wafat.

Dalam sambutannya Rektor Undana, Prof. Dr. Jefri Balle menyinggung fenomena ketergantungan masif pada Artificial Intelligence (AI).
Ia menyoroti riset MIT tahun 2025 berjudul “Your Brain on ChatGPT”, yang menyebut fenomena AI offloading—yakni kondisi ketika manusia mulai “menyewa kecerdasan” dari mesin.
“Kita ini jangan sampai cuma menyewa kecerdasan, bukan membangunnya,” tegas Rektor.
⚠️ AI vs Guru Besar: Siapa Lebih Penting?
Menurut Rektor, di era AI super cepat, peran guru besar justru makin krusial.
Pertama, ia mengingatkan teori konstruktivisme dari Jean Piaget. Pembelajaran bukan sekadar menyerap informasi, tetapi membangun pengetahuan secara aktif.
Artinya, AI hanya menyajikan data. Namun, guru besar membentuk cara berpikir kritis manusia.
Kedua, konsep experiential learning dari John Dewey jadi kunci. AI bisa memberi teori, tetapi tidak punya pengalaman nyata.
Sebaliknya, guru besar menghadirkan konteks kehidupan dan realitas sosial.
Ketiga, Rektor menekankan pentingnya Humanistic Intelligence (HI)—kecerdasan berbasis empati, nurani, dan kepekaan.
“AI punya algoritma. Tapi manusia punya hati. Itu yang tak bisa digantikan,” ujarnya.
🌟 Ini Dia 3 Guru Besar Baru yang Jadi Sorotan
Prof. Dr. Drs. William “Wem” Djani, M.Si: Otak di Balik Reformasi Birokrasi
Guru Besar Administrasi Publik ini dikenal sebagai pakar kebijakan daerah.
Ia aktif terlibat dalam penyusunan kebijakan hingga seleksi pejabat di tingkat provinsi dan kabupaten/kota.
Gagasannya tentang tata kelola pemerintahan jadi fondasi program seperti Meja Rakyat, yang menempatkan masyarakat sebagai pusat pelayanan.
Prof. Dr. Linda W. Fanggidae, S.T., M.T. : Arsitek “Rasa” dari Rote
Berbeda dari biasanya, Prof. Linda mengangkat kios Angalai khas Sabu ke panggung akademik.
Ia menegaskan bahwa arsitektur bukan sekadar bangunan, tetapi juga ruang jiwa dan interaksi sosial.
“AI bisa desain gedung. Tapi hanya manusia yang bisa desain rasa,” kira-kira pesan besarnya.
Prof. Zakarias “Chris” Seba Ngara, S. Si., M.Si., Ph.D.: Dari Sumba ke Jepang, Lalu Kembali Menginspirasi
Perjalanan Prof. Chris dari Waikabubak ke Tsukuba, Jepang, jadi kisah inspiratif.
Ia menemukan cara mengubah limbah kulit buah naga menjadi nanodots, material canggih yang berfungsi sebagai sensor sekaligus pupuk.
Inovasi ini dinilai revolusioner karena bisa mendukung ketahanan pangan dan hilirisasi.
🔥 Pesan Tegas: Mahasiswa Boleh Pakai AI, Tapi…
Rektor menutup sambutan dengan pesan kuat untuk para akademisi dan mahasiswa.
Mahasiswa boleh menggunakan AI untuk mencari data. Namun, mereka harus belajar nilai hidup, empati, dan keteladanan dari para guru besar.
Ia menegaskan, AI tidak akan pernah memahami kompleksitas budaya, perjuangan hidup, dan realitas sosial seperti manusia.
Mengutip kembali Jean Piaget, tujuan pendidikan adalah menciptakan manusia yang mampu melakukan hal baru, bukan sekadar mengulang masa lalu. (Vic-BF/Vip)











