SENTUHAN lembut dari suara bel pintu kelurahan di kawasan Naikoten 2 menjadi saksi bahwa pelayanan publik di kota ini sedang bergerak: bukan sekadar birokrasi rutin, melainkan upaya nyata untuk menyentuh kehidupan sehari-hari warga. Di balik meja, para aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Kupang tengah menjalankan visi pimpinan kota: bekerja dengan integritas, melayani dengan hati.
Melayani Itu Pilihan

Bagi dr. Christian, memimpin bukan sekadar memberi komando tetapi menjadi pelayan yang tanggap dan manusiawi. Ia menyampaikan, “To govern is to serve—memerintah adalah melayani, tugas pemerintah adalah melayani rakyat, dan itu adalah motto kami.”
Dalam acara penyerahan SK PPPK bagi ratusan ASN baru, ia menegaskan bahwa status sebagai ASN bukanlah jaminan abadi: “Bekerjalah dengan benar, tetap rendah hati dan disiplin.” tegas dr. Christian.
Hal-hal seperti disiplin, sederhana dalam penampilan, dan tidak mengedepankan gaya mewah menjadi bagian dari pesan yang disampaikannya kepada seluruh ASN.
Kolaborasi dari Ujung Langkah

Di sisi lain, Serena Cosgrova Francis, Wakil Wali Kota Kupang, menghubungkan pelayanan dengan kolaborasi dan keterbukaan. Dalam sebuah kegiatan peluncuran program inklusif, ia menegaskan bahwa pemerintahan yang melayani harus “dimulai dari hati yang mau mendengar dan berkolaborasi.”
“Dengan penerapan sistem digital dan proses yang terbuka, kita sedang meneguhkan komitmen agar seluruh proses pengadaan berjalan lebih efisien, cepat, dan dapat dipertanggungjawabkan secara digital,” ujarnya saat membuka Bimtek aplikasi katalog elektronik versi 6.
Bagi Serena, pelayanan bukan hanya soal menyelesaikan pekerjaan, melainkan menjalin kepercayaan melalui kebersamaan, proses terbuka, dan responsif terhadap warga.
Cerita dari Ruang Pelayanan
Di Kantor Kelurahan Naikoten 2, Adi, seorang staf pelayanan publik yang sudah 20 tahun mengabdi sebagai ASN, menceritakan perubahan yang ia rasakan secara pribadi.
“Dulu, banyak warga yang datang dengan pertanyaan karena tidak tahu alur. Sekarang kami punya sistem antrean, alur pelayanan terbuka, dan papan informasi yang jelas. Warga jadi lebih mudah, dan bagi saya itu artinya melayani dengan hati,” jelas Adi.
Ia menambahkan bahwa kini ia merasa tugasnya lebih bermakna: bukan hanya menyelesaikan dokumen, tetapi menjawab harapan warga yang mencari kejelasan.
Sementara itu, di sebuah warung kopi di Kelurahan Alak, Anton, 45 tahun, pengguna layanan publik menuturkan pengamatannya tentang ASN di lingkungan Pemkot Kupang.
“Kalau pelayanan cepat, ramah, dan transparan—itu menunjukkan bahwa ASN bukan hanya petugas, tetapi pelayan masyarakat. Saat saya tanya soal progres bantuan sosial, petugas kelurahan menjawab dan nanti saya diberi notifikasi. Itu membuat saya percaya,” tegas Anton.
Kata “percaya” muncul berulang kali. Karena integritas—buat warga—terlihat bukan dalam jargon besar, tetapi dalam tatapan mata, sapaan, dan kecepatan respons.
Integritas dalam Setiap Langkah
Pemerintah kota Kupang secara rutin menggelar survei internal dan penilaian integritas. Program seperti Survei Penilaian Integritas (SPI) diluncurkan untuk memetakan potensi risiko penyimpangan dalam pelayanan publik.
Pesan dari pimpinan jelas: seluruh ASN harus berada dalam satu “perahu besar” visi dan misi kota, tidak lagi menggunakan pola kerja “biasanya begini” sebagai alasan.
“Semua harus berpatokan pada RPJMD. Jangan membenarkan hal-hal yang biasa, tapi mulai sekarang harus biasakan hal-hal yang benar,” tegas Wali Kota.
Data di berita menunjukkan bah wa ketika 768 ASN menerima SK PPPK, sambutan Wali Kota tidak hanya soal angka, tetapi tentang penguatan loyalitas, integritas, etika kerja dan pelayanan publik.
Tantangan dan Harapan
Tidak bisa dipungkiri, perjalanan ini tidak seragam mulus. Dalam beberapa bagian pelayanan masih ditemukan keluhan: antrean yang tak tertata, petugas yang belum ramah, atau warga yang masih merasa “dipanggil” bukannya “dilayani”.
Namun, warga seperti Anton yakin perubahan nyata akan datang: “Kalau setiap hari saya dilayani dengan baik—bahkan oleh seorang staf lurah yang mengingat nama saya—artinya kota ini makin manusiawi.”
Pemerintah Kota Kupang pun menggulirkan program pelatihan, evaluasi kinerja, dan digitalisasi sistem agar seluruh ASN memiliki sarana dan budaya kerja yang mendukung pelayanan dengan hati.
Wali Kota dr. Christian Widodo-pun mengingatkan bahwa senyumnya dalam memimpin bukan tanda kelemahan.
“Saya akan lembut dalam cara, tetapi tegas dalam tujuan, terutama jika itu demi kepentingan masyarakat,” tegas dr. Christ.
Bukan Sekadar Slogan
Di Kota Kupang, integritas dan pelayanan dengan hati bukan sekadar slogan. Ia terefleksi melalui penampilan sederhana ASN, papan informasi di kantor kelurahan, sistem antrean yang rapih, dan sikap yang mendahulukan manusia daripada prosedur.
Ketika pemerintah, ASN, dan warga bergerak bersama—lihat warga menuntut kejelasan, ASN menanggapi dengan ramah, pimpinan menegaskan visinya—maka arti “melayani” kembali ke akar: hadir untuk orang lain dengan sikap yang dapat dipercaya.
Dan saat integritas menjadi cara kerja sehari-hari, bukan pilihan sesekali, maka pelayanan bukan hanya terpenuhi — ia menjadi pengalaman yang menumbuhkan kepercayaan di setiap sudut kota. (Tim-BF/Vip/*dari berbagai sumber/ADV)











