Undana Talk. Eps 4
Masalah stunting di Nusa Tenggara Timur ternyata tidak hanya soal makanan di meja. Pakar gizi Universitas Nusa Cendana menegaskan, kualitas gizi anak juga ditentukan oleh pengetahuan orang tua dan kekuatan ekonomi keluarga.
Bukan Cuma Isi Piring, Tapi Isi Otak dan Dompet
BEBER FAKTA – Persoalan stunting di Nusa Tenggara Timur masih menjadi tantangan besar. Namun, akar masalahnya ternyata lebih kompleks.
Pakar gizi Universitas Nusa Cendana, Prof. Dr. Intje Picauly, S.Pi., M.Si., menegaskan bahwa gizi anak tidak hanya ditentukan makanan di meja.

Sebaliknya, dua faktor lain ikut berperan besar. Pertama, pengetahuan orang tua tentang gizi. Kedua, kondisi ekonomi keluarga.
Ia menyebutnya sebagai kombinasi “isi otak dan isi dompet”.
Prof. Intje menyampaikan hal itu dalam program Undana Talk Season III episode “Masa Depan di Ujung Garpu”, Senin (2/3).
Menurutnya, edukasi gizi harus menyasar akar masalah yang sering luput dari perhatian.
70 Persen Penyebab Stunting Bukan Faktor Medis
Tim peneliti Undana menganalisis kondisi gizi di 22 kabupaten dan kota di NTT. Hasilnya cukup mengejutkan.
Penelitian menunjukkan faktor medis hanya menyumbang sebagian kecil penyebab stunting.
Sebaliknya, sekitar 70 persen pemicu stunting berasal dari sektor nonkesehatan.
Faktor tersebut antara lain:
- rendahnya pendidikan ibu
- pola asuh budaya yang keliru
- distribusi pangan lokal yang tidak merata
Karena itu, Prof. Intje menilai pendekatan kesehatan saja tidak cukup.
Ia juga menyoroti pentingnya peran tokoh adat dan tokoh agama.
“Program pemerintah sering berhenti di depan rumah. Namun perubahan terjadi di dapur,” jelasnya.
Karena itu, tokoh masyarakat perlu mendorong keluarga mengubah pola makan.
Dari sekadar makan asal kenyang menjadi makan untuk nutrisi.
Inovasi Pangan: Biskuit Protein hingga Beras Granul
Undana juga merespons temuan lapangan pada 2023.
Peneliti menemukan banyak anak di NTT tidak menyukai ikan dan sayur.
Karena itu, para peneliti mengembangkan inovasi pangan berbasis bahan lokal.
Beberapa produk yang dikembangkan antara lain:
- biskuit protein
- beras granul bergizi
- tepung tinggi nutrisi
Produk ini dirancang agar anak tetap mendapatkan omega-3 dan mikronutrien penting.
Selain itu, rasa makanan tetap disesuaikan dengan selera anak.
Dengan cara ini, anak bisa mendapat nutrisi tanpa merasa dipaksa mengubah pola makan.
Rukom dan Semanggis: Bangun Ekonomi Keluarga
Undana juga menyiapkan solusi jangka panjang melalui pendekatan komunitas.
Dua program unggulan tersebut adalah:
- Rumah Komunikasi Stunting (Rukom)
- Sekolah Mandiri Pangan dan Gizi (Semanggis)
Program ini diuji melalui KKN Tematik di SDN Oeklani, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Mahasiswa dan dosen membangun berbagai fasilitas pangan keluarga.
Mereka membuat:
- bedeng sayur
- kolam lele
- budidaya maggot
Selain itu, warga memanfaatkan maggot sebagai pakan ternak dan pupuk cair.
Program ini bertujuan menciptakan ekosistem pangan mandiri di tingkat keluarga.
Dengan demikian, keluarga tidak hanya mendapat gizi cukup.
Mereka juga memiliki peluang usaha melalui UMKM.
Investasi Masa Depan Dimulai dari Ujung Garpu
Prof. Intje menegaskan, desain program Rukom dan Semanggis akan diajukan kepada pemerintah daerah.
Model ini diharapkan menjadi prototipe percepatan penurunan stunting di NTT.
“Kami ingin keluarga menengah ke bawah memiliki kemandirian ekonomi sekaligus gizi terjaga,” tegasnya.
Melalui riset dan inovasi ini, Undana ingin mengubah cara pandang masyarakat.
Sebab masa depan generasi NTT sebenarnya dimulai dari apa yang ada di ujung garpu mereka. (Sumber: undana.ac.id/Vip-BF)











