Pengakuan mengejutkan dari seorang anggota polisi di Nusa Tenggara Timur yang nekat masuk ke dalam pusaran bisnis bahan bakar minyak (BBM) ilegal. Penyesalan mendalam kini datang dari bibir sang aparat setelah dirinya terciduk dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.
BEBER FAKTA – Aipda Jefri Loudoe, Anggota Kepolisian yang menjabat sebagai Kanit Paminal Polres Manggarai Timur. Setelah ditangkap oleh Propam Polda NTT terkait kasus penjualan BBM tanpa dokumen resmi, sosok yang akrab disapa Je-lo ini akhirnya buka suara dan mencurahkan isi hatinya yang penuh penyesalan, saat diwawancarai beberfakta.web.id.
😭 Terimpit Ekonomi, Je-lo Nekat Nafkahi “Tiga Dapur”
Bukan karena ingin bermewah-mewah, Aipda Jefri mengungkapkan bahwa motif utama dirinya nekat berjualan BBM ilegal murni karena tekanan ekonomi yang luar biasa.
BACA JUGA: KPK: NTT Zona Merah Korupsi Skor SPI Rendah, Skor MCI 2025 Turun Drastis
Ia secara blak-blakan mengaku harus membiayai tiga rumah tangga sekaligus yang letaknya saling berjauhan.
“Ini semua murni saya lakukan karena yang pertama, kebutuhan ekonomi. Kebutuhan ekonomi dikarenakan saya boleh dikatakan tiga dapur, Om. Tiga dapur: saya di Manggarai Timur, istri di Sabu-Raijua, sedangkan anak sekolah di Ende,” ungkap Jefri dengan nada pasrah.
Akibat pengeluaran yang sangat tinggi untuk menghidupi keluarga di tiga daerah berbeda tersebut, ia akhirnya khilaf.
Jefri memilih mengambil jalan pintas dengan menjalankan bisnis gelap BBM tanpa dokumen resmi demi menutupi kebutuhan bulanan yang terus mencekik.
🚫 Bantah Isu “Bekingan” Kakap dan Setoran ke Atasan
Di tengah bergulirnya kasus ini, muncul berbagai rumor liar yang menyebutkan bahwa Jefri merupakan pemain lama yang kebal hukum karena memiliki pelindung atau bekingan kuat di jajaran kepolisian.
Namun, Jefri dengan tegas membantah isu miring tersebut dan menyatakan dirinya bergerak sendiri.
“Isu-isu yang beredar selama ini bahwa saya punya bekingan, tidak benar. Saya tidak ada bekingan. Jika memang saya punya bekingan, tidak mungkin saya ditangkap,” tegasnya.
Selain membantah isu bekingan dari perwira Polda maupun Polres, ia juga menepis kabar adanya aliran dana atau setoran rutin kepada para pimpinan kepolisian.
Jefri memastikan bahwa seluruh kegiatan ilegal ini murni atas inisiatif pribadi tanpa keterlibatan pihak lain.
⚖️ Akui Pernah Dihukum Patsus dan Siap Hadapi Sidang Kode Etik
Jefri tidak mengelak bahwa dirinya terseret dalam kasus yang sama. Ia membenarkan informasi yang menyebutkan bahwa pada tahun 2024 silam, dirinya sempat diamankan oleh Ditreskrimsus Polda NTT dan telah menjalani hukuman internal.
“Memang betul pada tahun 2024 saya pernah ditangkap… dan pada waktu itu saya sudah disidang. Disidang dan putusan itu saya dipatsus (tempat khusus) selama 7 hari. Jadi info yang beredar bahwa saya tidak disidang, tidak diproses, itu semua hoaks,” jelas Jefri meluruskan rumor yang beredar.
Sempat berhenti setelah menjalani hukuman patsus di Polsek Lambaleda Utara, Polres Manggarai TImur, Jefri mengaku kembali tergoda karena desakan biaya sekolah anak yang semakin membengkak.
Saat ini, ia diketahui sudah menjalani penahanan patsus selama 20 hari dan sedang menunggu jadwal sidang kode etik yang akan menentukan nasib kelanjutan kariernya di Korps Bhayangkara.
🙏 Sampaikan Permohonan Maaf Mendalam Kepada Pimpinan Polri
Dengan rasa penyesalan yang mendalam, Jefri menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh jajaran pimpinan Polri, mulai dari Kapolri, Kapolda NTT hingga Kapolres Manggarai Timur selaku atasan langsungnya.
Ia merasa bersalah karena tindakan pribadinya telah mencoreng nama baik institusi yang sangat ia cintai.
“Dari hati yang paling dalam, saya mohon maaf. Tidak ada sedikit pun niat untuk menjatuhkan institusi Polri… Saya masih sangat mencintai institusi Polri. Apa pun keputusan yang diberikan pimpinan, saya yakin itu yang terbaik bagi saya,” pungkas Jefri dengan suara bergetar.
🙏 Memohon Media Lebih Berimbang
Usai Jefri menyatakan permohonan maaf dan penyesalannya, dengan mata berkaca-kaca, ia juga meminta kepada media yang memberitakan tentang kasus BBM illegal yang menjeratnya, agar lebih berimbang dalam pemberitaan.
“Secara pribadi, saya memohon kepada teman-teman awak media agar lebih berimbang dalam memberitakan peristiwa ini. Secara psikologi anak saya sangat terpukul, bahkan kini istri saya terkena serangan stroke akibat pemberitaan-pemberitaan yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi,” pinta Jefri memohon. (Vic-BF/Vip)











