Festival Budaya LLBK Hidupkan Sejarah Perjumpaan di Pantai Kopan

Foto: Ist. (Olahgrafis: Diego Tristan-BF)
Festival Budaya Multietnis Kelurahan Lai-Lai Bisi Kopan (LLBK) menghidupkan kembali sejarah perjumpaan budaya di Pantai Kopan, Kota Kupang. Festival bertema “Merajut Budaya dalam Harmoni” itu berlangsung selama dua hari, Jumat (4/9/2026).

BEBER FAKTA— Festival Pecinan Event Budaya Multietnis LLBK menghadirkan seni, tradisi, dan kreativitas masyarakat di Pantai Kopan.

Pantai Kopan Jadi Ruang Perjumpaan Budaya

Kawasan tersebut menjadi ruang perjumpaan berbagai komunitas dan kebudayaan. Kegiatan itu juga mengangkat sejarah kawasan Kota Tua Kupang yang memiliki jejak keberagaman.

Festival secara resmi dibuka Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jeffry Edward Pelt, S.H. Pembukaan berlangsung di Pantai Kopan, Kelurahan LLBK.

Hadir pula Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kota Kupang, Ignasius Repelita Lega, S.H. Sejumlah pimpinan perangkat daerah, camat, lurah, tokoh masyarakat, dan warga turut hadir.

Keberagaman Jadi Kekuatan Kota Kupang

Dalam sambutannya, Jeffry mengatakan festival budaya memiliki makna lebih luas dari pertunjukan seni. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk saling mengenal dan menghargai.

Baca Juga: Pemkot Kupang Dukung IPHI, Calon Jamaah Haji 2027 Dibina Sejak Dini

“Keragaman etnis dan budaya adalah kekuatan kita. Ibarat sebuah konser, ada yang bermain gitar, drum, bernyanyi, hingga penonton yang bertepuk tangan. Semua perbedaan itu terajut menjadi satu harmoni yang indah,” ujar Jeffry.

Ia menilai keberagaman menjadi modal sosial dalam membangun Kota Kupang sebagai rumah bersama. Karena itu, budaya dan sejarah perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda.

“Kita tidak sedang mempertahankan perbedaan untuk saling menjauh. Kita merawat perbedaan agar tetap bisa hidup berdampingan dalam harmoni,” tegasnya.

Kota Tua Didorong Jadi Ruang Produktif

Jeffry juga mendorong pengembangan kawasan Kota Tua sebagai ruang sejarah, budaya, pariwisata, dan ekonomi masyarakat.

Dengan pengembangan tersebut, kawasan bersejarah diharapkan tidak hanya menjadi tempat mengenang masa lalu. Kawasan itu juga dapat menjadi ruang produktif bagi masyarakat.

“Jadikan Kota Kupang ini sebagai rumah bersama dengan saling menghargai dan merawat kebersihan,” pesannya.

Sejarah Perjumpaan Jadi Inspirasi Festival

Ketua Panitia, Antoni Niti Susanto, menjelaskan alasan Pantai Kopan menjadi lokasi festival. Menurutnya, kawasan LLBK memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan Kota Kupang.

Kawasan tersebut menjadi saksi perjumpaan masyarakat asli Helong, Portugis, Belanda, komunitas Tionghoa, dan Arab.

Sejarah itu kemudian menjadi inspirasi utama festival bertema “Merajut Budaya dalam Harmoni”. Antoni berharap kegiatan tersebut memperkuat kebersamaan melalui keberagaman.

“Melalui festival ini, kami berharap dapat melestarikan budaya lokal, menarik kunjungan wisatawan, serta meningkatkan pendapatan para pelaku UMKM dan ekonomi kreatif di kawasan Kota Tua Kupang,” katanya.

Festival Juga Dorong Ekonomi Masyarakat

Festival tidak hanya mengangkat pelestarian budaya. Panitia juga berharap kegiatan tersebut membuka peluang bagi UMKM dan pelaku ekonomi kreatif.

Harapan tersebut sejalan dengan perhatian Pemerintah Kota Kupang terhadap pengembangan kegiatan budaya. Budaya diharapkan dapat berjalan bersama dengan peluang ekonomi masyarakat.

Festival Diwarnai Aksi Solidaritas

Rangkaian festival juga diwarnai kepedulian terhadap masyarakat Flores yang menghadapi bencana alam.

Sebelum acara berlanjut, panitia dan seluruh jajaran yang hadir menggelar hening cipta. Kegiatan tersebut menjadi bentuk simpati dan duka cita bagi korban serta masyarakat terdampak.

Jeffry kemudian mengajak masyarakat mendoakan warga terdampak gempa. Ia juga mengingatkan pentingnya gotong royong dan solidaritas.

Sebelumnya, Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menjalankan misi kemanusiaan selama sekitar lima hari. Ia mengunjungi enam kabupaten di Pulau Flores.

Dalam misi tersebut, Pemerintah Kota Kupang menyalurkan bantuan sekitar Rp635 juta. Bantuan itu bersumber dari APBD dan donasi ASN Pemerintah Kota Kupang.

Dua Hari Penuh Seni dan Tradisi

Festival berlangsung selama dua hari dengan berbagai kegiatan budaya, seni, dan hiburan.

Hari pertama menghadirkan karnaval budaya multietnis, Natoni, Barongsai, stand-up comedy, tari tradisional, dan konser musik live.

Sementara itu, hari kedua menghadirkan lomba busana tingkat TK, pentas seni anak-anak, pembacaan puisi, tari Tobe bersama, dan penutupan festival.(Red.03-BF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *