Universitas Nusa Cendana (Undana) melangkah berani memperkuat tata kelola internal kampus. Sebanyak 31 dosen dan tenaga kependidikan mengikuti pelatihan intensif manajemen risiko demi mewujudkan impian menjadi World Class University.
BEBER FAKTA—Langkah strategis ini menandai perubahan cara kerja birokrasi kampus. Langkah ini mengubah pola lama yang reaktif menjadi lebih sigap serta terencana.
🛡️ Menjaga Rumah Akademik Dari Potensi Krisis
Perjalanan panjang ini bermula dari komitmen menciptakan birokrasi yang transparan. Selama empat hari berturut-turut, sejak Rabu (8/7/2026), kampus menggelar Pelatihan dan Sertifikasi Kompetensi Manajemen Risiko.
Kegiatan maraton ini berlangsung di dua tempat. Dua hari pertama bertempat di Aula Prof. Agus Benu Gedung Pascasarjana. Pada hari ketiga, Jumat (10/7/2026), kegiatan berpindah ke Jasphire Room On The Rock Hotel Kupang.
Perubahan lokasi ini membantu peserta fokus menyerap materi teknis. Semua persiapan ini bermuara pada Uji Kompetensi Sertifikasi resmi tanggal 1 Agustus 2026 mendatang.
🎓 Kejar Tiga Gelar Profesi Demi Akuntabilitas
Sebanyak 31 peserta berjuang mendapatkan sertifikasi profesi terakreditasi. Targetnya mencakup 22 lulusan Certified Risk Associate (CRA) dan 7 Certified Risk Professional (CRP). Selain itu, 2 peserta menargetkan gelar Certified Project Risk Manager (CPRM).
Langkah besar ini lahir dari tuntutan regulasi Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP). Aturan ini mewajibkan manajemen risiko menjadi tolok ukur utama akuntabilitas instansi.
Ketua SPI Undana, Prof. Dr. Chaterina Agusta Paulus, S.Pi., M.Si., CRA., CRP., CRMP, menegaskan pentingnya program ini. Menurutnya, program ini mengeskalasi kapasitas pengambil kebijakan kampus secara nyata.
“Satuan Pengawas Internal Undana sendiri telah mengantongi sertifikasi ISO 31000:2018 untuk manajemen risiko. Lewat pelatihan ini, diharapkan unit kerja dan fakultas lain yang siap secara tata kelola untuk meraih sertifikasi ISO serupa. Fakultas Hukum Undana bertindak sebagai role model awal setelah mengirimkan delegasi peserta terbanyak, yakni 7 orang dalam angkatan pelatihan ini,” jelas Prof. Chaterina.
💼 Membenahi Administrasi Dari Akar Masalah
Bagi para peserta, pelatihan ini memberikan sudut pandang baru dalam mengelola fakultas. Dekan FPKP Undana, Dr. Ir. Agnette Tjendawangi, M.Si, merasakan langsung manfaat taktis pembelajaran ini.
Ia menilai pemahaman risiko membantu jajaran pimpinan membenahi mutu administrasi. Pemetaan masalah sejak awal menjadi kunci utama untuk merumuskan tindakan pengendalian yang tepat.
Langkah ini membangun birokrasi kampus yang jauh lebih akuntabel. Dampaknya langsung terasa pada peningkatan mutu pelayanan bagi seluruh civitas akademika.
📝 Mengubah Wacana Menjadi Aksi Nyata
Kesadaran akan risiko kini bukan lagi sekadar teori di atas kertas. Anggota Tim SAKIP Undana, Santhy Chamdra, SP., M.Si, menekankan pentingnya dokumen pemetaan yang matang.
“Setiap pelaksanaan program kerja wajib disertai dengan penyusunan risk register yang matang, di mana langkah mitigasi sudah terformulasi dengan jelas sebagai acuan tindakan saat menghadapi risiko. Mengingat seluruh aspek, baik risiko operasional maupun keuangan, memiliki potensi kerentanannya masing-masing, maka pembuatan peta risiko menjadi hal mendasar yang harus kita lakukan,” pungkas Santhy.
🚀 Mengakhiri Budaya Reaktif Menuju Masa Depan
Pelatihan ini memutus rantai kebiasaan lama yang cenderung reaktif. Evaluasi tidak lagi menunggu terjadinya kesalahan anggaran atau temuan kerugian negara.
Kini, Undana memiliki barisan pimpinan yang siap mengidentifikasi potensi masalah sejak dini. Fakultas Hukum menjadi pelopor perubahan ini bersama unit kerja lainnya.
Langkah preventif ini melindungi kampus dari sanksi hukum dan kerentanan keuangan. Fondasi internal yang kokoh ini melancarkan jalan Undana menuju panggung perguruan tinggi kelas dunia.(Sumber: Humas Undana-Iyl/Red.01-BF)











