🔥Nasib NTT Mart = Sopia? Ketika Gagasan Besar Berakhir Hambar

Olahgrafis: Vico Patty-BF

Dulu Sopia dielu-elukan sebagai masa depan ekonomi lokal NTT. Namun kini, gaungnya nyaris hilang tanpa jejak. Sekarang, NTT Mart hadir dengan janji yang sama besarnya. Gerai dibangun, program digencarkan, harapan kembali dipasang. Tapi publik mulai bertanya: apakah ini benar solusi ekonomi, atau hanya mengulang pola lama—besar di awal, lalu perlahan dilupakan?

 

BEBER FAKTA – Nusa Tenggara Timur bukan kekurangan ide besar.

Dari legalisasi minuman tradisional “Sopia” di era Viktor Bungtilu Laiskodat, hingga program ambisius NTT Mart yang kini didorong Emanuel Melkiades Laka Lena.

Keduanya lahir dari niat yang sama: mengangkat ekonomi lokal.

LAUNCHING – Launching Produk Sopia, Rabu, 19 Juni 2019 silam. (Foto: Ist.)
LAUNCHING NTT MART – Gubernur NTT, Melkiedes Laka Lena dalam salah satu acara peluncuran NTT Mart. (Foto: Ist.)

Namun pertanyaannya kini mulai menggema:
apakah NTT Mart akan bernasib sama seperti Sopia—ide cemerlang, tapi minim hasil?

 

Sopia: Ide Besar yang Kehilangan Arah

Pada 2019, Pemprov NTT melegalkan minuman tradisional sopi dengan branding “Sophia”.

Kebijakan ini disebut sebagai langkah progresif. Tujuannya jelas:
mengangkat produk lokal ke level industri, sekaligus mengatur standar produksi.

Bahkan, produk ini dirancang melalui riset dan standarisasi kadar alkohol.

Namun dalam praktiknya, gagasan ini tidak berkembang signifikan.

Alih-alih menjadi komoditas unggulan, Sopia justru tenggelam.
Distribusi tidak jelas, pasar tidak terbentuk, dan branding gagal menancap.

Sejumlah pengamat menyebutnya sebagai contoh klasik:
program besar tanpa ekosistem yang matang, sehingga kini yang tersisa terasa hambar.

 

NTT Mart: Mengulang Pola yang Sama?

Kini, pola serupa terlihat dalam program NTT Mart.

Pemerintah mendorong pembangunan gerai di berbagai wilayah. Bahkan jumlahnya terus bertambah dalam waktu singkat.

Konsepnya terlihat menjanjikan:
pusat distribusi produk lokal, penggerak UMKM, dan penguat ekonomi daerah.

Namun di lapangan, persoalan lama kembali muncul.

Gerai berdiri, tetapi sistem belum siap.
Produk belum stabil.
Branding belum terbentuk.

Padahal, pemerintah sendiri mengakui NTT Mart masih dalam tahap awal dan terbuka untuk kritik.

 

Masalah Lama: Produk dan Ekosistem

Jika Sopia gagal karena tidak memiliki pasar yang kuat, NTT Mart justru menghadapi masalah dari sisi hulu.

Produksi UMKM belum konsisten.

Tanpa produk yang stabil, NTT Mart hanya menjadi etalase kosong.

Fenomena ini sebenarnya sudah terjadi sebelumnya.
Sopia hadir dengan konsep besar, tetapi tidak diikuti kesiapan rantai produksi dan distribusi.

Kini, NTT Mart berisiko mengulang kesalahan yang sama.

 

Dipaksa Tumbuh, Bukan Tumbuh Alami

Salah satu sinyal paling kuat terlihat dari kebijakan pemerintah.

ASN bahkan didorong untuk wajib berbelanja di NTT Mart sebagai bentuk dukungan.

Di satu sisi, ini menunjukkan keseriusan pemerintah.

Namun di sisi lain, muncul pertanyaan:
apakah program ini memang kuat secara pasar, atau justru dipaksa hidup oleh kebijakan?

Jika sebuah sistem harus “dipaksa” berjalan, maka ada yang belum beres di fondasinya.

 

Beda Waktu, Sama Risiko

Sopia dan NTT Mart lahir di era berbeda.
Namun keduanya memiliki pola yang mirip:

  • Sama-sama berbasis produk lokal
  • Sama-sama digagas sebagai solusi ekonomi
  • Sama-sama dimulai dengan optimisme tinggi

Namun satu hal yang menjadi pembeda sekaligus ujian terbesar:
eksekusi.

Tanpa:

  • sistem distribusi yang jelas
  • kekuatan branding
  • konsistensi produksi

maka ide besar hanya akan menjadi simbol kebijakan.

 

Belajar dari Sopia, atau Mengulang Sejarah?

NTT Mart bukan ide yang salah. Sama seperti Sopia, gagasannya bahkan sangat relevan.

Namun sejarah menunjukkan satu hal penting: ide besar tidak pernah cukup tanpa sistem yang matang.

Jika NTT Mart tidak segera membenahi fondasi—dari produksi UMKM hingga strategi pasar—
maka bukan tidak mungkin program ini akan mengikuti jejak Sopia:

ramai di awal, lalu perlahan hilang tanpa dampak nyata.

Kini bola ada di tangan pemerintah.

Apakah NTT Mart akan menjadi tonggak ekonomi baru?
Atau sekadar mengulang cerita lama dalam kemasan berbeda? (Vic-BF/Vip)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *