SIANG JELANG SORE itu, Kantor Bagian Umum Sekretariat Daerah (Setda) Kota Kupang terasa teduh. Jam dinding menunjukkan pukul 15.41—tiga puluh menit menjelang jam pulang kantor—tetapi hiruk pikuk di ruangan itu jauh dari kata selesai.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bagian Umum, Hubert Mani, menyambut tim beberfakta.web.id dengan gaya yang mencerminkan ritme kerjanya: sebelah tangan menjabat kami, tangan lainnya memegang helaian kertas berkas, sementara bahunya menjepit telepon selular yang terus mengalirkan instruksi dari seberang.
Senyumnya ramah dan hangat. Dengan anggukan kecil, ia mengajak kami mengikuti langkahnya menuju ruang kerja.
Di belakang kami, seorang ibu —stafnya— membawa setumpuk kertas di dalam map sambil mengimbangi langkah cepat Hubert. Para pegawai lainnya terlihat masih terpaku di depan monitor komputer, menyelesaikan pekerjaan mereka seolah waktu tak lagi relevan.
“Aduh kaka dong, mohon maaf… begini su kalau kerja di Bagian Umum,” ujar Hubert ketika akhirnya menutup telepon. Kami duduk, ia kembali menekuni berkas-berkas.
“Kasih beta waktu sebentar sa, beta tandantangani beberapa surat do.”
Dari percakapan kecil itu, kami segera memahami satu hal: pekerjaan di Bagian Umum berjalan pada ritme yang tidak mengenal jeda.
Ketika Fasilitas Pemimpin Dibuka untuk Warga
Kedatangan kami hari itu untuk memastikan kabar yang cukup membuat tergugah, juga menggelitik rasa ingin tahu –inspiring!!: Fasilitas pemimpin Pemerintah Kota Kupang yang kini dapat digunakan oleh masyarakat umum.
“Iya kaka, Walikota dr. Christ dan Ibu Serena—Wakil Walikota— kas ijin masyarakat untuk menggunakan fasilitas yang biasanya hanya dipakai pemimpin wilayah,” jelas Hubert setelah menutup berkas terakhir dan menatap kami penuh perhatian.
Fasilitas itu bukan main-main. Kursi dan tenda hanyalah bagian kecil.
“Mobil operasional Rumah Jabatan, station wagon hitam mulus tu, sekarang dipakai jadi mobil pengantin. Ada ju mobil ambulans pengangkut jenazah,” lanjutnya.
Bahkan, jika sedang tidak digunakan untuk kepentingan dalam kegiatan pimpinan Kota Kupang, genset dan peralatan sound system-pun bisa dipinjam warga. Semuanya terbuka, semuanya bisa diakses.
Integritas, Etika, dan Semangat Melayani
Sejak Kota Kupang dipimpin oleh duet muda dr. Christian Widodo dan Serena Cosgrova Francis, kultur kerja ASN perlahan bergerak menuju satu kata kunci: integritas.
“Memerintah adalah melayani,” atau “To Govern is To Serve,” menjadi pagar etika yang membimbing seluruh ASN.
Dalam pidato perdananya di Sidang Paripurna DPRD Kota Kupang pada Maret 2025 lalu, Christian menegaskan:
“Pemerintah bukan sekadar orang yang memerintah, tetapi orang yang melayani… kita semua keluarga besar yang harus bekerja sama membangun kota ini.”
Sebuah ungkapan yang bukan hanya tinggal slogan.

Mobil Pengantin Gratis, Dari Aset Nganggur Menjadi Berkat
Ketika Walikota dan Wakil Walikota mengecek aset Pemkot beberapa waktu lalu, mereka menemukan mobil hitam mengkilat di Rumah Jabatan—menganggur begitu saja.
“Bapak mama kaka adik semua… ini kan sayang. Dari pada nganggur, saya dan kaka wakil memutuskan untuk memberi ini kepada warga Kota Kupang,” kata Christian kala itu.
Sejak diumumkan pada medio Agustus 2025, mobil itu nyaris tak pernah berhenti.
“Sampai akhir Desember ini, daftar antrean sudah full. Jadi kalau kaka dong mau pakai… na tahun depan sa,” canda Hubert sambil tertawa kecil.

Semua Gratis, Sampai Bahan Bakarnya
Hubert memastikan bahwa kebijakan ini bukan sekadar membolehkan penggunaan fasilitas.
“Kaka… pak Wali dan ibu wakil perhatikan sampai hal-hal kecil. Misalnya, bahan bakar kendaraan-kendaraan yang dipinjam warga, itu semuanya disiapkan pemerintah,” jelasnya.
Tak ada pungutan. Tak ada syarat berlapis.
“Intinya, semuanya gratis kaka… tidak ada yang dipungut bayaran,” tegasnya.
Dalam ritme percakapan, ketukan pintu staf yang keluar masuk untuk meminta paraf dan arahan seolah menjadi backsound alami Bagian Umum—tempat pelayanan bergerak tanpa jeda.
Selalu Siap 24 Jam, Karena Masyarakat Tak Punya Jam Kerja
Bekerja di Bagian Umum Setda Kota Kupang, menurut Hubert, bukan sekadar soal administrasi.
“Kebutuhan masyarakat itu tidak ada batasan waktu. Beta sendiri harus siap satu kali dua puluh empat jam,” katanya.
Ia mencontohkan bagaimana sopir mobil pengantin gratis atau sopir ambulans harus siaga kapan saja.
Namun bagi Hubert, semua itu terasa lebih ringan berkat gaya kepemimpinan yang humanis dari Christian Widodo dan Serena Francis.
“Semangat melayani dari pak Wali dan Ibu Wakil itu tertular ke kami. Cara kerja kami harus mencerminkan keduanya to kaka,” tutup Hubert sambil tersenyum.

Menit terus bergerak melewati batas akhir jam kerja ASN. Namun di ruangan itu, para staf masih menyelesaikan permintaan masyarakat yang datang silih berganti.
Ketika tim beberfakta.web.id berpamitan, Hubert dan para pegawainya masih berjibaku melayani—menjadi wajah terdepan dari spirit “memerintah adalah melayani” di Kota Kupang. (Vico/Tim-BF/Vip/ADV)











