Isu dugaan pungli mutasi siswa di SMA Negeri 3 Kupang akhirnya pecah ke publik. Namun, Kepala Sekolah langsung pasang badan dan membantah keras semua tudingan yang beredar. 😳
BEBER FAKTA – Pihak sekolah menegaskan, uang yang dibayar orang tua siswa bukan “uang kursi” ataupun pungutan liar. Sekolah menyebut dana itu dipakai untuk kebutuhan resmi siswa yang melekat selama bersekolah.
🗣️ Kepala Sekolah: “Berita Itu Tidak Benar!”
Kepala SMA Negeri 3 Kupang, Ishak Daniel Balbesi, langsung memberikan klarifikasi di depan awak media dan orang tua siswa yang namanya ikut terseret dalam pemberitaan.
Kuasa Hukum Minta Gubernur Copot Kadis Koperasi & UMKM NTT —-> 🚨Tiktok @beber_fakta
Ia menilai isu pungli tersebut tidak sesuai fakta dan justru merugikan nama baik sekolah.
“Kami harus menyampaikan bahwa pemberitaan itu sama sekali tidak ada kebenarannya,” tegas Ishak.
Selain itu, Ishak menjelaskan pihak sekolah sengaja mempertemukan media dengan orang tua siswa agar semua informasi menjadi terang dan tidak menimbulkan fitnah berkepanjangan.
📚 Rp2 Juta Dipakai Untuk Apa?
Menurut pihak sekolah, uang yang dibayarkan bukan biaya mutasi masuk. Sebaliknya, dana itu dipakai untuk kebutuhan siswa seperti:
- Seragam olahraga
- Map rapor resmi sekolah
- Kartu perpustakaan
- Kartu kontrol BP
- Kartu absensi digital scanning
Ishak mengatakan perlengkapan tersebut tidak dijual bebas karena memiliki identitas resmi sekolah.
“Itu hak milik siswa dan kewajiban yang harus dimiliki, bukan pungutan dari sekolah,” jelasnya.
Bahkan, kartu absensi digital disebut punya fungsi khusus agar orang tua dapat memantau kehadiran anak lewat ponsel masing-masing. 📱
🌧️ Sekolah Berlumpur, Orang Tua Diajak Bantu Sukarela
Di sisi lain, Ishak juga menyinggung soal bantuan tambahan yang sempat menjadi sorotan publik.
Ia mengaku sekolah memang sempat berbicara dengan orang tua murid terkait kondisi lingkungan sekolah yang berlumpur saat musim hujan. Pasalnya, lokasi SMA Negeri 3 Kupang berada di bekas area rawa sehingga aktivitas siswa sering terganggu.
Karena itu, sekolah mengajak orang tua yang mampu untuk membantu material seperti pasir, batu, atau tanah putih.
🚨Wooow!!! Jeje Resmi Jadi Google Student Ambassador 2026 Anak FISIP Undana Tembus Google!
Namun, banyak orang tua mengaku kesulitan mengangkut material tersebut. Akhirnya, beberapa memilih memberi bantuan uang tunai agar sekolah membeli material secara langsung.
“Sumbangan ini nilainya tidak ditentukan, bersifat sukarela dan tidak mengikat,” kata Ishak.
Ia juga menegaskan sekolah tidak pernah memaksa ataupun menagih bantuan tersebut kepada siapa pun.
👨👩👦 Orang Tua Siswa Ikut Bicara: “Saya Tidak Dirugikan”
Sementara itu, Milfen Laudiun, orang tua siswa yang melakukan mutasi dari SMA Negeri 6 Kupang ke SMA Negeri 3 Kupang, ikut meluruskan isu yang beredar.
Ia menjelaskan anaknya pindah sekolah karena faktor jarak rumah yang lebih dekat.
Menurutnya, pembayaran Rp2 juta dilakukan secara sadar dan sudah disertai rincian jelas dari pihak sekolah.
“Saya sama sekali tidak ada komplain, tidak merasa dirugikan, dan tidak pernah melapor ke mana-mana,” tegas Milfen.
Milfen bahkan menyebut dirinya membayar secara bertahap saat memiliki uang, tanpa tekanan dari pihak sekolah.
🔍 Sekolah Minta Spekulasi Dihentikan
Karena dokumen internal sekolah sempat tersebar ke media, pihak SMA Negeri 3 Kupang kini berharap klarifikasi ini bisa menghentikan spekulasi liar di masyarakat.
Sekolah juga meminta publik melihat persoalan secara utuh sebelum menyimpulkan adanya pungli.
“Kami berharap klarifikasi ini bisa menjernihkan situasi serta mengembalikan kepercayaan publik,” tutup Ishak. (*/Vip)











