Di tengah seremoni megah pengukuhan guru besar di Universitas Nusa Cendana, sebuah gagasan sederhana namun mengguncang lahir: bangunan bukan sekadar beton. Melalui suara Prof. Linda, ruang dipahami sebagai tempat manusia bernapas, berinteraksi, dan menyimpan jiwa.
Saat Ruang Mulai Bicara
Di bawah langit-langit Grha Cendana, suasana awalnya terasa formal. Namun, perlahan berubah menjadi reflektif. Prof. Dr. Linda Welmince Fanggidae tidak hanya menyampaikan orasi, melainkan mengajak hadirin merasakan ulang hubungan manusia dengan ruang.
Ia menegaskan bahwa arsitektur bukan hanya soal bentuk. Sebaliknya, arsitektur adalah dialog. Di satu sisi ada material keras. Di sisi lain, ada perilaku manusia yang hidup dan terus berubah.
Karena itu, seorang arsitek, menurutnya, tidak cukup memahami struktur. Ia harus mampu membaca “detak jantung” manusia yang akan tinggal di dalamnya.
Ketika Kemegahan Gagal Memahami Manusia
Untuk menjelaskan gagasannya, Prof. Linda membawa audiens ke kisah Pruitt–Igoe di St. Louis.
Awalnya, kompleks ini dielu-elukan sebagai simbol kemajuan modern. Namun, hanya dalam dua dekade, semuanya runtuh. Kriminalitas meningkat. Vandalisme merajalela. Hingga akhirnya, bangunan itu dihancurkan.
Masalahnya ternyata bukan pada beton. Justru, desainnya gagal memahami manusia. Ruang-ruang komunal tanpa makna kepemilikan menciptakan jarak sosial. Akibatnya, interaksi hilang, dan kepedulian ikut mati.
Dari sini, sebuah pelajaran penting muncul: arsitektur yang tidak memahami manusia, pada akhirnya akan ditinggalkan manusia.
Kios Kecil yang Menghidupkan
Sebaliknya, Prof. Linda mengajak kita melihat lebih dekat ke realitas di Kupang.
Di sudut-sudut jalan, berdiri Kios Angalai. Ukurannya hanya sekitar tiga meter persegi. Namun, justru di ruang kecil itu, kehidupan tumbuh.
Hampir 300 kios milik etnis Sabu bertahan lebih dari dua puluh tahun. Menariknya, tata ruangnya mengikuti pola rumah tradisional. Artinya, desainnya selaras dengan kebiasaan penghuninya.
Karena itu, keterbatasan ruang tidak memicu konflik. Sebaliknya, ia melahirkan kreativitas. Di sinilah arsitektur menunjukkan wajahnya yang paling manusiawi.
Ruang yang Menjaga Iman dan Kenangan
Tidak berhenti di pasar, kajian Prof. Linda menyentuh ruang-ruang spiritual. Ia menelusuri gereja-gereja Gereja Masehi Injili di Timor.
Langit-langit yang tinggi bukan hanya soal estetika. Lebih dari itu, ia membangun rasa khidmat. Ruang menjadi medium yang mendekatkan manusia dengan Tuhan.
Selain itu, ia juga melihat fenomena makam di pekarangan rumah warga Kupang. Di sana, ruang domestik berubah menjadi ruang memori. Hubungan antara yang hidup dan yang telah pergi tetap terjaga.
Dengan demikian, arsitektur tidak hanya membentuk ruang fisik. Ia juga merawat hubungan emosional dan spiritual.
Menanam Empati dalam Setiap Garis
Pada akhirnya, Prof. Linda menutup orasinya dengan pesan yang kuat. Ia menuntut perubahan dalam pendidikan arsitektur.
Mahasiswa, menurutnya, tidak boleh hanya mengejar estetika. Sebaliknya, mereka harus memiliki empati. Mereka harus memahami manusia, budaya, dan konteks lokal.
Karena itu, arsitektur masa depan tidak boleh dingin. Ia harus hidup. Ia harus menjadi ruang yang memungkinkan manusia tumbuh, berinteraksi, dan menemukan dirinya.
Dan siang itu, di Grha Cendana, semua yang hadir diingatkan: setiap garis yang digambar arsitek, akan menentukan bagaimana manusia bernapas di dalamnya. (Sumber: undana.ac.id/Vip-BF)











