Fenomena El Nino sangat kuat kini sedang melanda daratan Indonesia dan memicu ancaman kekeringan ekstrem yang berkepanjangan. Kondisi cuaca yang tidak menentu ini mulai memukul kehidupan sehari-hari masyarakat sekaligus membayangi kesehatan publik.
SINAR MATAHARI terik serasa membakar kulit, sementara tanah retak akibat kemarau panjang yang tak kunjung usai. Fenomena alam yang terbilang ganas ini bukan sekadar hitungan angka di atas kertas, melainkan kenyataan pahit yang harus dihadapi jutaan warga Indonesia saat ini. Kekeringan panjang yang terjadi akibat kombinasi fenomena iklim global menuntut kewaspadaan tinggi dari seluruh lapisan masyarakat.
Ancaman Anomali Iklim di Samudra
Kondisi sulit ini dipicu oleh adanya kombinasi dua fenomena iklim sekaligus di wilayah perairan Indonesia. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani membeberkan bahwa El Nino kuat bersandingan dengan Indian Ocean Dipole positif di Samudra Hindia.
Kombinasi fenomena tersebut membuat periode kemarau berlangsung jauh lebih lama di sebagian besar wilayah Indonesia. Dampaknya, kedatangan musim hujan menjadi terlambat dan durasinya terprediksi berlangsung jauh lebih singkat dari biasanya.
Jejak Kekeringan Ekstrem di Tanah Air
Keganasan iklim ini tercatat dengan jelas dalam data pemantauan BMKG hingga akhir Agustus. Anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 Samudra Pasifik menembus angka plus dua koma delapan tiga, dengan indeks ENSO mencapai plus dua koma enam tiga.
Dampak dari anomali iklim ini langsung menyandera sekitar 61,9 persen daratan Indonesia. Rekor hari tanpa hujan terlama bahkan dipegang oleh wilayah Bantul, Yogyakarta, yang sudah tidak diguyur hujan selama 131 hari atau lebih dari empat bulan.
Peringatan Resmi dari Para Ahli
Dalam konferensi pers Prediksi Musim Hujan di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Selasa (22/9/2026), Faisal secara tegas mengingatkan dampak buruk situasi ini. “Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” tegas Faisal.
Sementara itu, Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa kedatangan hujan tidak akan serentak. Sebanyak 525 Zona Musim atau 61,08 persen luas daratan Indonesia mengalami penundaan musim hujan, dengan mayoritas baru menerima guyuran hujan pada November dan Desember.
Bom Waktu Penyakit Mengintai Warga
Durasi kemarau panjang ini berisiko memperburuk kualitas udara akibat debu dan memicu potensi kebakaran hutan. Tak hanya itu, Direktur Perubahan Iklim BMKG, A. Fachri Radjab, mengingatkan adanya bahaya krisis air bersih yang memicu penyakit pencernaan seperti diare.
Fase transisi atau pancaroba yang tertunda juga menjadi masa subur penularan penyakit infeksi maupun penyakit tular vektor. Saat hujan singkat akhirnya turun, munculnya genangan air berpotensi menjadi tempat berkembang biak ideal bagi nyamuk Aedes aegypti.
Langkah Darurat dan Antisipasi Bersama
Merespons situasi darurat iklim ini, BMKG telah membeberkan sejumlah rekomendasi khusus untuk sektor kesehatan masyarakat. Pemerintah daerah dan instansi terkait diminta bersiap menghadapi kondisi kualitas udara kurang sehat yang berlangsung lama.
Masyarakat juga diimbau untuk mengoptimalkan sirkulasi udara ruangan guna menurunkan kelembapan saat hujan tiba. Selain itu, langkah antisipasi berupa Pemberantasan Sarang Nyamuk dan larvasidasi harus diperketat sejak dini agar fasilitas kesehatan tidak kewalahan menghadapi lonjakan kasus demam berdarah.
Penutup
Menghadapi keganasan El Nino sangat kuat ini membutuhkan kesiapsiagaan bersama dari seluruh elemen bangsa. Dengan menjaga kebersihan lingkungan serta merespons imbauan kesehatan sejak dini, masyarakat diharapkan mampu bertahan melewati masa-masa sulit kekeringan ekstrem ini.(*/Red.01-BF)











