Dari QC Pipa Migas, Koko Yohan Menemukan Jalan di Dunia Kopi

Yohanes "Koko Penyeduh Kopi" Andrean Bitin Berek
Dari mengawasi pengelasan pipa migas bertekanan hingga 15.000 PSI, Koko Yohan kini menghabiskan waktunya meracik kopi. Di kedai sederhananya, ia justru menemukan cara baru untuk berbagi pengalaman rasa.

BEBER FAKTA— Di Jalan Palapa, tepat di depan Kantor Bulog, secangkir kopi disajikan tanpa gula. Bagi Yohanes Andrean Bitin Berek, atau Koko Yohan, keputusan itu bukan sekadar pilihan menu.

Ia ingin pencinta kopi mengenal rasa asli dari biji yang mereka minum. Dari situlah perjalanan Koko sebagai penyeduh kopi sekaligus edukator kopi terus berkembang.

Dari Pipa Bertekanan ke Secangkir Kopi

Sebelum serius menggeluti bisnis kedai kopi sekitar dua tahun lalu, Koko Yohan bekerja sebagai Quality Control (QC) Pipe Welding di industri minyak dan gas.

Pekerjaannya menuntut ketelitian tinggi. Ia harus memastikan proses pengelasan pipa memenuhi standar, termasuk pada pipa yang bekerja dengan tekanan hingga 15.000 PSI.

Pengalaman itu kemudian terbawa ke dunia kopi. Ketelitian, presisi, dan perhatian pada detail menjadi bagian dari caranya menyeduh setiap cangkir.

Kopi Tanpa Gula Jadi Pilihan

Di kedainya, Koko Yohan memilih fokus pada kopi kelas specialty dan teknik seduh manual atau manual brew.

Metode pour over, khususnya V60, menjadi salah satu teknik yang ia gunakan. Namun, ada satu hal yang membuat kedainya berbeda.

Ia tidak menyediakan gula untuk kopi.

“Gula itu mengubah karakter alami kopi. Kopi itu sebenarnya tidak selalu pahit, ada rasa unik di dalamnya,” ujar Koko Yohan.

Menurutnya, kopi tanpa gula memberikan kesempatan kepada penikmat untuk mengenali karakter alami kopi.

Ia juga menyebut kopi murni tanpa gula lebih aman bagi penderita asam lambung. Namun, ia menilai campuran gula sering menjadi salah satu hal yang membuat asam lambung naik.

“Sering kali yang membuat asam lambung naik itu justru campuran gulanya,” tambahnya.

Setiap Cangkir Harus Melewati Uji Rasa

Bagi Koko, menyeduh kopi bukan sekadar mengikuti resep. Setiap hasil seduhan harus melewati pemeriksaan rasa.

Ia selalu mencicipi kopi sebelum menyajikannya kepada pembeli. Jika hasilnya belum sesuai, ia memilih mengulang proses seduhan dari awal.

Baca Juga: Salt Bread SaltySash, Dari Tren Amerika ke Meja Warga Kupang

Prinsip quality control juga ia terapkan ketika bekerja bersama para roaster. Uji sampel dilakukan secara berkesinambungan untuk menjaga konsistensi kualitas kopi.

Kebiasaan itu menjadi bagian dari pengalaman kerjanya di industri migas. Kini, prinsip yang sama ia bawa ke balik meja seduh.

Mimpi Barista yang Sempat Terkubur

Kecintaan Koko Yohan terhadap kopi sebenarnya sudah tumbuh jauh sebelum memiliki kedai.

Sekitar 2008–2009, ia pertama kali mengenal espresso ketika berada di Yogyakarta. Saat itu, muncul keinginan untuk menjadi barista.

Namun, keterbatasan biaya dan akses pelatihan membuat impian tersebut sempat terkubur.

Waktu berjalan. Hingga akhirnya, dunia kopi kembali mempertemukannya dengan kesempatan baru.

Bangkit Setelah Masa Pemulihan

Pada akhir 2023, Koko kembali menekuni kopi setelah menjalani operasi dan masa pemulihan panjang.

Kondisi tersebut membuatnya tidak bisa bekerja di lapangan seperti sebelumnya. Ia kemudian memilih bangkit dengan memulai perjalanan baru di dunia kopi.

Pada Juni 2024, Koko membeli mesin kopi sendiri. Setelah itu, ia belajar secara otodidak.

Tidak ada jalan instan. Ia mengasah kemampuan melalui praktik dan ketekunan, sambil membawa standar ketelitian yang sebelumnya ia gunakan dalam pekerjaan di industri migas.

Dari Belajar Sendiri hingga Dipercaya Menjadi Juri

Perjalanan otodidak itu perlahan menghasilkan pencapaian.

Koko Yohan kini telah mengantongi lisensi resmi dari Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI). Ia juga meraih berbagai penghargaan dalam kompetisi menyeduh kopi.

Salah satu pencapaian yang paling membanggakan baginya terjadi dalam Exotic Tenun Fest (ETF) pada 2025.

Perannya di dunia manual brew kemudian berkembang. Pada Agustus 2026, Koko dipercaya menjadi juri Manual Brew dalam ajang yang digelar Komunitas Kopi (KK) NTT bersama Kafe Sattva.

Kepercayaan serupa kembali datang pada September 2026. Ia menjadi juri kompetisi manual brew di Kampus Politani.

Dari Kedai Sederhana, Edukasi Terus Berjalan

Kini, kedai Koko Yohan di Jalan Palapa bukan hanya tempat menikmati kopi. Tempat itu menjadi ruang bagi dirinya untuk mengenalkan kopi specialty kepada masyarakat.

Perjalanannya menunjukkan perubahan besar. Dari pekerjaan yang menuntut presisi pada industri migas, ia membawa prinsip yang sama ke dunia kopi.

Di setiap cangkir, Koko berusaha mempertahankan karakter kopi tanpa tambahan gula. Ia ingin para penikmat merasakan bahwa kopi memiliki beragam rasa yang bisa ditemukan ketika diseduh dengan tepat.

Dari kedai sederhana di depan Kantor Bulog, perjalanan itu terus berlanjut. Koko Yohan memilih membiarkan kopi berbicara melalui rasa, sementara dirinya tetap berada di balik proses yang presisi.(Die-BF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *