Paduan Suara Mahasiswa Bella Cantare Universitas Nusa Cendana sukses menghentakkan panggung internasional dengan memborong tiga medali emas di Malaysia. Kemenangan bersejarah ini membuktikan bahwa anak-anak muda dari daerah terpencil mampu mengalahkan raksasa dunia dan meruntuhkan stigma rendah diri.
BEBER FAKTA—Selama ini, pemuda dan mahasiswa di wilayah kepulauan Nusa Tenggara Timur sering kali dihantui krisis kepercayaan diri saat bertanding di tingkat internasional. Mereka kerap merasa inferior dan tidak mampu menandingi teknik vokal modern dari negara tetangga seperti Filipina maupun Singapura. Anggapan keliru tersebut membuat banyak potensi seni di NTT terkubur tanpa pernah berani melangkah ke luar zona nyaman.
🎶 Pembuktian Momen Bersejarah di Sarawak
Kini, mentalitas inferior itu hancur berkeping-keping di tangan Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Bella Cantare Undana Kupang. Delegasi tarik suara kebanggaan NTT ini sukses membawa pulang tiga medali emas sekaligus menyabet gelar The Winner kategori Mix Choir. Capaian manis ini diraih dalam ajang bergengsi Sarawak International Choir Festival and Symposium 2026 di Malaysia.
Prestasi historis ini dikupas tuntas oleh Ketua PSM Bella Cantare Undana, Umbu Awang Marturia Kulandima, dalam tayangan Undana Talk Season 3 di Kupang. Umbu memaparkan bahwa tiga medali emas didapatkan usai menyisihkan kelompok paduan suara tangguh dari empat negara. Kemenangan ini sekaligus menjadi kado persembahan spesial bagi Hari Ulang Tahun ke-64 Undana.
✈️ Latihan Spartan Lima Bulan dan Perjuangan Penerbangan
Keberhasilan membawa pulang gelar juara dari Sarawak tidak diraih secara instan. Sebanyak 29 mahasiswa terpilih dan satu dirigen menjalani latihan spartan selama lima bulan penuh sejak Januari 2026. Mereka digembleng setiap hari dari pukul 17.00 hingga 22.00 WITA demi mematangkan harmonisasi vokal tujuh lagu kompetisi.
Perjalanan menuju medan laga dimulai pada 18 Juni 2026 dengan tantangan keterbatasan logistik penerbangan. Rombongan beranggotakan 35 orang—termasuk Wakil Rektor III, Kepala Biro, dan tim pembina—harus terbagi ke dalam dua kloter udara. Ketegangan fisik terpancar saat kloter kedua baru mendarat di Sarawak pada pagi hari tanggal 19 Juni 2026.
“Kloter kedua baru mendarat di Sarawak pada pagi hari tanggal 19 Juni dan langsung dijemput panitia ke lokasi perlombaan untuk bertanding di kategori Mix Choir. Berkat komitmen dan pelayanan, ketegangan fisik itu terbayar lunas saat kami diumumkan sebagai peringkat pertama dan melaju ke babak final pada tanggal 20 dan 21 Juni,” urai Umbu Awang.
🤝 Dukungan Penuh Rektorat dan Debut Luar Negeri
Apresiasi tinggi disampaikan kepada Rektor Undana yang memberikan dukungan penuh sejak proposal disetujui pada Desember 2025. Pihak universitas memfasilitasi seluruh kebutuhan anggaran dan akomodasi selama perjalanan. Momen ini menjadi debut perdana PSM Bella Cantare melebarkan sayap kompetisi ke tingkat internasional.
Perjuangan fisik dan mental para anggota terbayar tuntas saat piala kemenangan berhasil digenggam. Prestasi ini memberikan terapi kejut psikologis yang meningkatkan harga diri seluruh mahasiswa Undana.
🎼 Regenerasi Talenta dan Pencetak Pelatih Lokal
Sebagai wadah regenerasi, PSM Bella Cantare dijadwalkan membuka audisi penerimaan anggota baru Generasi ke-22 pada 22 Agustus 2026. Pendaftaran dikhususkan bagi mahasiswa baru dan mahasiswa semester awal yang memiliki komitmen kuat. Persyaratan utama mencakup kemampuan dasar vokal, penguasaan dua lagu, pembacaan notasi, serta nilai tambah berupa keterampilan instrumen musik.
Menariknya, pola latihan di dalam PSM didesain bukan sekadar untuk mencetak penyanyi panggung. Tempat ini dirancang sebagai inkubator pelatih (*choir directors*) bagi kemajuan seni di pelosok daerah.
🌟 Menjadi Poros Kebudayaan dan Agen Perubahan
Setelah lulus dari Undana, para alumni Bella Cantare akan pulang ke kampung halaman masing-masing. Mereka bertugas mendirikan dan menstrukturkan paduan suara di gereja maupun sekolah pelosok NTT. Langkah ini mengubah potensi bakat alam masyarakat menjadi keahlian profesional yang terstandarisasi.
Kini, keterbatasan geografis bukan lagi alasan untuk berkecil hati di panggung global. Undana berhasil mengukuhkan dirinya sebagai poros utama pencetak agen perubahan kebudayaan dan seni di Indonesia Timur. (Sumber: Undana Talk/Humas Undana-Ika/Red.01-BF)











