Universitas Nusa Cendana (Undana) resmi menerjunkan 53 tim akademisi berbekal dana Rp1,14 miliar ke Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) untuk menangani masalah stunting dan kemiskinan secara langsung. Langkah nyata ini membuktikan bahwa ilmu pengetahuan kampus tidak boleh hanya berhenti di atas kertas, melainkan harus hadir menjawab penderitaan masyarakat.
BEBER FAKTA—Senin, 20 Juli 2026, Aula Kantor Bupati TTS menjadi saksi bisu lahirnya sebuah komitmen besar. Undana menegaskan visinya sebagai *Locally Relevant University* dengan membawa ratusan dosen serta mahasiswa turun langsung ke tengah warga.
💡 Mengakhiri Tradisi Riset di Atas Kertas
Selama ini, pengabdian masyarakat dari perguruan tinggi sering kali terjebak dalam formalitas semata. Dokumen riset akademis kerap menumpuk menjadi teori belaka, sementara persoalan mendasar seperti kemiskinan ekstrem dan stunting di Kabupaten TTS terus bertahan tanpa intervensi sains yang presisi. Pola tidak terintegrasi tersebut terbukti membuang potensi anggaran dan gagal memberikan perubahan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.
🔍 Skema Belanja Masalah demi Solusi Tepat Sasaran
Guna mengakhiri kebuntuan tersebut, Undana menerapkan skema baru bertajuk “belanja masalah”. Sekitar dua hingga tiga bulan sebelum peluncuran, tim peneliti Undana berkoordinasi intensif dengan pemerintah daerah untuk mengidentifikasi isu paling strategis di lapangan. Pola ini memastikan seluruh program pengabdian yang diturunkan benar-benar menjawab kebutuhan riil warga di 23 desa dan kelurahan sasaran.
🚀 Kolaborasi Ratusan Akademisi Menjangkau 23 Wilayah
Melalui pengalokasian dana Rp1,14 miliar, Undana mendistribusikan 53 tim terpadu yang mencakup 1 tim khusus profesor serta 52 tim dosen dan mahasiswa lintas disiplin ilmu. Mereka menyebar di 4 kecamatan, 11 kelurahan, dan 12 desa di wilayah TTS. Keterlibatan ini tidak hanya memecahkan persoalan warga di sektor pertanian, kesehatan, hingga ekonomi kreatif, tetapi juga mempercepat studi mahasiswa melalui pengumpulan data tugas akhir secara langsung.
🎙️ Komitmen Tegas Akademisi dan Pemerintah Daerah
Kehadiran akademisi di lapangan menjadi angin segar bagi percepatan pembangunan daerah. Wakil Rektor II Undana, Prof. Dr. Paul G. Tamelan, M.Sc., yang hadir mewakili Rektor Undana, menegaskan pentingnya fokus pemecahan masalah ini.
“Kami mengumpulkan para profesor, dosen, dan mahasiswa lintas disiplin ilmu di satu lokasi fokus agar riset dan inovasi kampus benar-benar hadir memberikan solusi atas masalah kemiskinan hingga stunting di masyarakat,” ujar Prof. Paul G. Tamelan, M.Sc.
Pemerintah Kabupaten TTS menyambut hangat langkah strategis ini. Bupati TTS, Eduard Markus Lioe, S.IP., S.H., M.H., menginstruksikan seluruh jajaran perangkat daerah hingga kepala desa untuk mendampingi para peneliti. Selain itu, Undana juga membuka sosialisasi Program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) jenjang S1 dan S2 agar ASN setempat dapat menyelesaikan studi maksimal 1,5 tahun.
“Keterlibatan 53 tim peneliti di berbagai bidang ini merupakan instrumen strategis untuk menciptakan peluang konkret demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat TTS,” tegas Bupati TTS, Eduard Markus Lioe.
📈 Senyum Harapan Baru bagi Warga TTS
Melalui integrasi riset terpadu ini, ketiadaan arah pengabdian resmi diakhiri. Kabupaten TTS kini mengantongi rekomendasi kebijakan berbasis data lapangan yang akurat untuk mendongkrak ekonomi warga serta mengentaskan stunting. Pemanfaatan jalur RPL turut menjamin peningkatan kualifikasi birokrasi daerah secara efisien dalam waktu singkat.
✨ Menjadi Solusi Nyata bagi Kemandirian Daerah
Langkah nyata penerjunan 53 tim akademisi dengan dana Rp1,14 miliar ini membuktikan perwujudan Undana sebagai *Locally Relevant University*. Kampus kini berdiri tegak sebagai *problem solver* yang hadir secara langsung di tengah masyarakat. Harapan baru pun mekar di bumi TTS demi kemandirian dan kesejahteraan yang berkelanjutan.(*Sumber: Humas Undana-IyL/Red.01-BF)











