Muh Farhan, dosen muda Universitas Nusa Cendana, melangkah ke panggung internasional demi menyelamatkan masa depan nelayan rumput laut di Kupang dari ancaman bahaya mikroplastik. Langkah mulia ini mengantarkannya meraih hibah riset bergengsi dari Jepang untuk memetakan kualitas perairan pesisir Nusa Tenggara Timur.
BEBER FAKTA—Pesisir Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, menyimpan ketakutan yang kerap menghantui ribuan kepala keluarga nelayan setiap musimnya. Ancaman penyakit *ice-ice* hingga penurunan kualitas air akibat mikroplastik tak kasat mata acap kali menggulung impian panen melimpah para pembudidaya rumput laut. Berangkat dari kegelisahan masyarakat pesisir tersebut, Muh Farhan merancang terobosan berbasis sains untuk memutus rantai kerugian finansial warga.
🌊 Harapan Baru Nelayan Rumput Laut Kupang
Bagi masyarakat pesisir Kabupaten Kupang, sektor marikultur seperti budidaya rumput laut adalah urat nadi kehidupan utama keluarga. Namun, tanpa adanya panduan peta lokasi yang akurat, masyarakat kerap berspekulasi menanam di area yang sebenarnya rentan tercemar. Praktik spekulatif ini memicu kegagalan panen beruntun yang berujung pada jeratan kemiskinan berkepanjangan bagi nelayan lokal.
🇯🇵 Menembus Seleksi Ketat Hibah Riset Jepang
Perjuangan untuk membawa solusi nyata ini berbuah manis setelah proposal inovatif Muh Farhan berhasil lolos seleksi ketat Kurita Water and Environment Foundation (KWEF) Research Grant Program 2026. Yayasan lingkungan terkemuka asal Jepang ini menganugerahkan pendanaan riset mandiri sebesar JPY 400.000 kepada Farhan. “Proses seleksi dilakukan melalui penilaian proposal oleh komite ilmiah KWEF dan komite khusus di Indonesia berdasarkan aspek kebaruan, kualitas metodologi, rekam jejak peneliti, serta dampak riset terhadap lingkungan perairan,” jelas Farhan.
🔬 Aksi Lapangan Berbasis Sains dan Teknologi GIS
Riset bertajuk “Integrated Spatial Assessment of Water Quality and Microplastic Contamination in Mariculture Areas: Implications for Environmental Risk and Optimal Site Selection in Kupang Regency, Indonesia” ini dijadwalkan berjalan penuh mulai Oktober 2026 hingga September 2027. Menggunakan teknologi Geographic Information Systems (GIS), Farhan memfokuskan studi pada analisis pemetaan mikroplastik dan kualitas air secara temporal selama lima bulan. Luaran riset ini tak hanya ditargetkan menembus jurnal internasional bereputasi, tetapi juga disosialisasikan langsung kepada komunitas nelayan pesisir.
🤝 Merangkul Generasi Muda untuk Dampak Nyata
Meskipun hibah individu khusus peneliti berusia di bawah 40 tahun ini tergolong kompetitif di level ASEAN, Farhan memilih untuk tidak melangkah sendirian. Dosen Program Studi Budidaya Perairan ini turut menggandeng mahasiswa Undana penerima *research grant* The Explorer Club yang telah dilatih secara intensif. Peta spasial hasil analisis riset nantinya diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai acuan tata ruang laut sekaligus panduan pasti bagi nelayan untuk memilih titik tanam yang bebas dari kontaminasi mikroplastik.
🇲🇨 Kemenangan Sains Demi Kelestarian Laut Indonesia
Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa sains mampu memberikan perlindungan konkret bagi kehidupan masyarakat pulau terluar di Indonesia bagian timur. Peta lokasi berbasis ilmiah akan mengakhiri masa-masa spekulasi nelayan, menekan risiko kegagalan panen, serta menggenjot produktivitas ekonomi pesisir Kupang. Langkah tegap sosok akademisi muda ini menegaskan bahwa kerja keras riset kampus sanggup menjaga kelestarian laut Nusantara sekaligus memperluas jejaring kolaborasi global.(Sumber: Humas Undana-Ing/Red.01-BF)











