Kampus Runtuhkan Tembok Birokrasi Kaku demi Angkatan Kerja NTT

Sistem RPL Digital Undana Berhasil Dirilis

Foto: Jeje Parera - Humas Undana / Olahgrafis: Diego Tristan-BF
Universitas Nusa Cendana menggandeng SEVIMA untuk meluncurkan sistem digitalisasi pengakuan akademik dan percepatan kelulusan mahasiswa. Langkah strategis ini menjadi angin segar bagi pekerja profesional yang mendambakan ijazah sarjana tanpa harus kuliah empat tahun penuh.

BEBER FAKTA—Selama bertahun-tahun, ribuan aparatur desa, jurnalis, hingga pelaku industri kreatif di Nusa Tenggara Timur terjebak dalam stagnasi karier. Meskipun mereka menguasai keahlian praktis mumpuni di lapangan, posisi tawar dan kesejahteraan ekonomi mereka kerap tersandera akibat tidak memiliki ijazah sarjana. Mereka enggan menempuh kuliah reguler karena terhalang aturan birokrasi kampus yang kaku, mahal, dan menyita banyak waktu.

📜 Mengonversi Pengalaman Lapangan Menjadi SKS Resmi

Guna meruntuhkan tembok pembatas administratif tersebut, Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang resmi meluncurkan digitalisasi sistem pengakuan akademik. Langkah ini diawali melalui kegiatan Penyamaan Persepsi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Tipe A serta Semester Pendek untuk periode Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 pada 7–8 Juli 2026.

Aparatur rektorat mengintegrasikan kurikulum ini ke dalam ekosistem digital dengan menggandeng pakar teknologi dari PT Sentra Vidya Utama (SEVIMA). Dua narasumber utama SEVIMA, Argadinata Febriano dan Dhea Ananda, menerjunkan pendampingan teknis langsung kepada para dekan, ketua program studi, operator akademik, serta asesor pelaksana di lingkungan Undana.

🎓 Komitmen Rektor dan Harapan Baru Mahasiswa

Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri Samuel Bale, S.T., M.Eng., menegaskan bahwa implementasi skema ini merupakan pilar utama transformasi tata kelola akademik Undana hingga 2029. Jalur RPL Tipe A dirancang khusus agar kompetensi nonformal masyarakat dan praktisi dapat dikonversi langsung menjadi Satuan Kredit Semester (SKS) resmi.

“Kegiatan ini menjadi komitmen Undana untuk menghadirkan layanan akademik yang lebih luas. Melalui skema RPL, pengalaman kerja di luar pendidikan formal dapat direkognisi menjadi SKS sehingga masyarakat bisa kuliah dengan masa studi yang jauh lebih efisien. Sementara untuk internal, Semester Pendek merupakan jalan keluar taktis bagi mahasiswa untuk menuntaskan mata kuliah yang tertinggal tanpa harus menunggu semester reguler berikutnya,” urai Prof. Jefri Bale pada Rabu (8/7/2026).

🛡️ Jaminan Mutu dan Asesmen Digital yang Ketat

Wakil Rektor I Bidang Akademik Undana, Prof. Dr. drh. Annytha I.R. Detha, M.Si., menambahkan bahwa tren minat masyarakat terhadap jalur inklusif ini terus melonjak tajam. Ia menjamin bahwa seluruh proses asesmen portofolio, verifikasi sertifikat kompetensi, rekam jejak kerja, hingga wawancara dilakukan secara objektif melalui platform digital SEVIMA.

Standardisasi ketat ini diterapkan agar hasil konversi SKS tetap mematuhi mutu lulusan nasional. Langkah cermat tersebut sekaligus menutup rapat celah praktik jual-beli gelar yang merusak citra pendidikan.

⚡ Mengikis Angka Drop Out dan Memanusiakan Keahlian Praktis

Penerapan Sistem RPL Digital Undana juga menjadi solusi ampuh bagi menumpuknya jumlah mahasiswa yang terancam putus studi (drop out). Mereka yang sempat tertahan hanya karena satu atau dua mata kuliah prasyarat kini bisa menyelesaikan masa studinya melalui program Semester Pendek.

Dampak jangka panjangnya, para pekerja profesional di NTT dapat memangkas waktu kuliah hingga separuh masa studi reguler secara sah. Di sektor internal, kebijakan ini menguras tumpukan kelulusan yang tertunda serta meningkatkan skor Indikator Kinerja Utama (IKU) universitas.

🌟 Undana ResmiBertransformasi Menjadi Kampus Inklusif

Langkah taktis ini membuktikan bahwa di bawah kepemimpinan Prof. Jefri Bale, Undana sukses bertransformasi dari sekadar institusi penguji hafalan teori. Kampus ini kini berdiri kokoh sebagai lembaga inklusif yang memanusiakan keahlian praktis angkatan kerja di kawasan Indonesia Timur.

Pendidikan kini bukan lagi barang mewah yang kaku, melainkan ruang terbuka bagi siapa saja yang ingin berkembang dan diakui secara adil. (Sumber: Humas Undana-Alk/Red.01-BF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *