Air Bersih Desa Fatukoko Menjadi Nyata Lewat Aksi Kolaborasi Empat Kampus Ternama

Di tengah gersangnya tanah pedalaman Timor Tengah Selatan, senyum warga Desa Fatukoko akhirnya merekah menyambut air bersih. Kolaborasi empat perguruan tinggi nasional hadir membawa harapan baru melalui teknologi filtrasi dan kesehatan ternak.

BEBER FAKTA—Selama bertahun-tahun, warga Desa Fatukoko di Kecamatan Mollo Barat harus bertahan dengan air sungai mentah. Keterbatasan akses air bersih menjadi makanan sehari-hari, terutama saat musim kemarau panjang melanda wilayah tersebut.

🚰 Pahitnya Bertahan Hidup dengan Air Sungai Tercemar

Krisis air bersih telah lama membayangi kehidupan masyarakat pedalaman Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Tanpa proses pengolahan, air sungai terpaksa warga konsumsi langsung untuk memenuhi seluruh kebutuhan harian rumah tangga.

Dampak buruknya sangat nyata pada kesehatan masyarakat setempat. Ketergantungan pada air tercemar memicu tingginya kasus penyakit bawaan air, seperti diare kronis dan infeksi saluran pencernaan.

Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terhadap ancaman penyakit ini. Di sisi lain, para peternak lokal juga sering merugi akibat kematian massal ternak yang tidak terawat.

🧪 Langkah Nyata Empat Kampus di Pedalaman TTS

Dua masalah besar ini akhirnya mendapat perhatian serius dari akademisi nasional. Universitas Nusa Cendana (Undana) menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Padjadjaran (Unpad).

Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) Tahun 2026 dari Kemdiktisaintek, mereka bergerak bersama. Tim gabungan resmi meluncurkan teknologi filtrasi air bersih dan layanan kesehatan hewan pada Senin (13/7/2026).

Aksi multidisiplin ini membagi fokus kerja ke dalam dua sektor vital. Tim ITB, Unpad, dan Prodi Kimia Undana merakit instalasi filtrasi air berbasis material adsorben secara langsung.

Sementara itu, tim UGM bersama Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan Undana serta Dinas Peternakan TTS memeriksa kesehatan ternak. Sebanyak 25 warga, tokoh masyarakat, perwakilan desa, hingga Camat Mollo Barat antusias mengikuti seluruh rangkaian agenda kegiatan.

🤝 Gotong Royong Merakit Harapan Bersama Warga

Sebelum alat dipasang, tim peneliti telah mengambil sampel air sungai untuk melalui uji coba laboratorium secara ketat. Tim ahli tidak sekadar memaparkan teori, melainkan merakit dan memasang instalasi filtrasi bersama masyarakat.

Masyarakat kini mempelajari langsung cara mengoperasikan dan merawat alat penyaring air tersebut. Perubahan fisik air yang semula keruh menjadi jernih kini terlihat jelas oleh mata telanjang warga.

Ketua Tim PMKI, Prof. Dr. Muhammad Ali Zulfikar dari ITB, memberikan penjelasan mengenai hasil demonstrasi tersebut.

“Dari hasil demonstrasi, terlihat perbedaan kualitas fisik yang cukup jelas antara air sebelum dan sesudah melewati proses filtrasi sederhana ini. Walaupun hasil pengujian setelah instalasi akhir masih menunggu proses evaluasi lanjutan, kami tetap menganjurkan masyarakat untuk memasak air hasil filtrasi tersebut terlebih dahulu sebelum dikonsumsi,” jelas Prof. Muhammad Ali Zulfikar saat dikonfirmasi pada Senin (13/7/2026).

🌾 Memadukan Teknologi Modern dan Kearifan Lokal

Langkah besar para akademisi ini mendapat sambutan hangat dari pihak Rektorat Undana. Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Undana, Prof. Dr. Philiphi de Rozari, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D., menerima rombongan pada Selasa (14/7/2026).

Beliau menegaskan bahwa penerapan teknologi modern di NTT harus menyatu dengan kearifan lokal masyarakat lahan kering. Pola hidup warga yang memanfaatkan rumah adat sebagai lumbung pangan menjadi bukti ketahanan budaya setempat.

Inovasi ini dipastikan tidak berhenti sebagai program satu hari saja. Prof. Aliya Nur Hasanah dari Unpad menambahkan bahwa konsorsium memproyeksikan Desa Fatukoko sebagai desa binaan jangka panjang.

💡 Memutus Rantai Kerentanan dan Membangun Mandiri

Kehadiran teknologi filtrasi dan layanan medis veteriner ini memberikan dampak ekonomi serta kesehatan yang sangat krusial. Pasokan air yang tersaring material adsorben kini memberikan jaminan sanitasi yang jauh lebih aman bagi keluarga.

Prevalensi penyakit akibat air tercemar dapat ditekan secara drastis berkat air bersih ini. Keterampilan memitigasi penyakit ternak juga berhasil mendongkrak produktivitas sektor peternakan yang menjadi tabungan utama warga.

Kini masyarakat pedalaman tidak lagi terjebak dalam krisis sanitasi dan kerentanan ekonomi. Lewat alih teknologi yang praktis, warga Desa Fatukoko mampu berdiri mandiri menjaga kesehatan diri dan ternak mereka.

✨ Senyum Baru untuk Masa Depan Desa Fatukoko

Inovasi sederhana ini terbukti berhasil mengubah pola hidup masyarakat pedalaman menjadi lebih sehat dan sejahtera. Semangat kolaborasi antar-kampus telah menyalakan titik terang di tanah Timor Tengah Selatan.

Kini, air bersih bukan lagi sekadar impian yang mustahil bagi warga Desa Fatukoko. Perguruan tinggi telah membuktikan peran nyatanya sebagai motor penggerak kesejahteraan hingga ke pelosok negeri.(*Sumber: Humas Undana-Ref/*Red.01-BF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *